Sejarah kelam Tragedi Banda 1621. Saat VOC di bawah J.P. Coen membantai ribuan rakyat Banda demi memonopoli perdagangan buah pala.
Hari ini kita mengenal pala sebagai bumbu dapur biasa yang harganya terjangkau di pasar tradisional. Namun, tahukah kamu bahwa empat abad yang lalu, buah kecil ini pernah bernilai lebih mahal daripada emas murni dan menjadi alasan terjadinya salah satu genosida paling brutal di tanah air?
Peristiwa memilukan itu terjadi di Kepulauan Banda, Maluku, pada tahun 1621. Saat itu, VOC (Kompeni Belanda) di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memutuskan untuk melakukan tindakan keji demi menguasai monopoli perdagangan pala dunia, sebuah ambisi yang harus dibayar dengan ribuan nyawa rakyat Banda yang tak berdosa.
Emas Hijau yang Membutakan Mata
Pada abad ke-17, Kepulauan Banda adalah satu-satunya tempat di muka bumi ini di mana pohon pala bisa tumbuh subur. Fakta geografis ini membuat Banda menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa, karena harga pala di pasar Eropa saat itu melonjak gila-gilaan hingga 60.000 kali lipat dari harga belinya di petani lokal.
Para pedagang Belanda tergiur keuntungan yang tak masuk akal ini dan ingin menguasai 100% perdagangan pala tanpa campur tangan bangsa lain seperti Inggris atau pedagang Jawa. Namun, rakyat Banda yang dipimpin oleh para "Orang Kaya" (tokoh adat) menolak didikte oleh VOC dan tetap ingin berdagang bebas dengan siapa saja yang menawarkan harga terbaik, sebuah prinsip yang membuat VOC murka.
Kedatangan Sang Jagal J.P. Coen
Puncak ketegangan terjadi ketika Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen (J.P. Coen) tiba di Banda dengan armada perang lengkap yang membawa ribuan serdadu bayaran dari Jepang (Ronin). Coen dikenal sebagai pemimpin yang sangat kejam, dingin, dan menghalalkan segala cara demi keuntungan perusahaan dagang VOC.
Ia menuduh rakyat Banda telah melanggar perjanjian dagang dan membunuh perwakilan Belanda sebelumnya. Tanpa memberi kesempatan pembelaan diri yang adil, Coen memerintahkan pasukannya untuk menyerbu pulau-pulau di Banda, membakar kampung-kampung, dan memburu penduduk asli yang lari bersembunyi ke pegunungan.
Pembantaian Para Orang Kaya
Babak paling hitam dalam tragedi ini terjadi ketika 44 orang pemimpin adat Banda atau "Orang Kaya" ditangkap dan digiring ke dalam Benteng Nassau. Di sana, mereka disiksa secara sadis dan akhirnya dieksekusi mati oleh para algojo bayaran Jepang di hadapan J.P. Coen sendiri, sebagai pesan teror kepada seluruh penduduk yang tersisa.
Dampak dari operasi militer ini sangat mengerikan secara demografis. Sejarawan mencatat bahwa sebelum tahun 1621, penduduk asli Banda berjumlah sekitar 15.000 jiwa, namun setelah pembantaian itu berakhir, hanya tersisa kurang dari 1.000 orang yang selamat. Sebagian besar tewas dibunuh, mati kelaparan di hutan, atau dijual sebagai budak ke Batavia, sehingga penduduk asli Banda nyaris punah total dari tanah kelahiran mereka sendiri.
Kesimpulan
Tragedi Banda 1621 bukanlah sekadar kisah perang biasa, melainkan bukti nyata betapa kejamnya wajah kolonialisme dan kapitalisme murni di masa lalu. Jan Pieterszoon Coen mungkin dianggap pahlawan bagi kas negara Belanda karena berhasil memonopoli pala, tetapi bagi sejarah kemanusiaan, ia adalah penjahat perang yang tangannya berlumuran darah.
Hari ini, keindahan Banda Neira dan kemegahan Benteng Belgica berdiri di atas tumpukan sejarah yang pilu. Kita wajib mengenang peristiwa ini bukan untuk memelihara dendam, melainkan agar kita sadar bahwa kekayaan alam Nusantara pernah diperebutkan dengan harga yang sangat mahal: nyawa dan martabat manusia.
- Des Alwi - "Sejarah Maluku: Banda Naira, Ternate, Tidore, dan Ambon".
- Giles Milton - "Nathaniel's Nutmeg" (Buku sejarah perebutan pala).
- Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) - Catatan VOC 1621.
Komentar