Kisah Nabi Zakaria mengajarkan kita untuk tidak pernah putus asa dalam berdoa meski logika manusia berkata itu mustahil.
Dalam lembaran sejarah peradaban manusia, keinginan untuk memiliki keturunan yang saleh merupakan salah satu fitrah terdalam yang tertanam dalam jiwa setiap insan. Anak bukan sekadar penerus garis keturunan biologis, melainkan juga pewaris nilai-nilai kebaikan, ilmu, dan perjuangan yang telah dibangun oleh orang tuanya semasa hidup. Namun, tidak semua manusia diberikan kemudahan untuk mendapatkan anugerah tersebut, bahkan seorang nabi sekalipun harus melewati ujian kesabaran yang luar biasa berat dalam menantinya. Adalah Nabi Zakaria a.s., seorang hamba pilihan Allah yang hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk mengurus Baitul Maqdis dan membimbing umat Bani Israil. Di balik kesibukannya yang mulia tersebut, tersimpan sebuah kerinduan mendalam yang tak pernah padam di lubuk hatinya, yaitu kerinduan akan hadirnya seorang putra yang kelak akan meneruskan dakwah kenabian. Padahal, secara logika biologi dan medis, harapan itu tampak seperti punggukan merindukan bulan. Usia beliau sudah sangat senja dengan tulang-belulang yang mulai rapuh dan rambut yang telah memutih seluruhnya, sementara sang istri tercinta juga telah divonis mandul sejak masa mudanya. Kisah Nabi Zakaria bukanlah sekadar drama tentang penantian, melainkan sebuah pelajaran tauhid tingkat tinggi tentang bagaimana keyakinan seorang hamba mampu menembus batas-batas kemustahilan nalar manusia.
Keajaiban Rezeki Di Dalam Mihrab
Keyakinan Nabi Zakaria a.s. akan kekuasaan Allah yang tak terbatas semakin memuncak ketika beliau menyaksikan peristiwa ajaib yang terjadi pada keponakan sekaligus anak asuhnya, Siti Maryam. Sebagai pemegang kunci dan pengasuh Baitul Maqdis, Nabi Zakaria bertanggung jawab untuk menjamin kebutuhan Maryam yang mengasingkan diri untuk beribadah di dalam sebuah kamar khusus atau mihrab. Setiap kali Nabi Zakaria masuk ke dalam mihrab untuk mengantarkan makanan, beliau selalu dibuat terkejut karena mendapati di sisi Maryam telah tersedia berbagai jenis buah-buahan segar yang sangat indah. Keanehan semakin terasa karena buah-buahan tersebut adalah jenis buah musim panas yang muncul di musim dingin, atau sebaliknya buah musim dingin yang ada di tengah musim panas, sesuatu yang mustahil didapatkan di pasar manapun pada saat itu.
Ketika Nabi Zakaria bertanya dengan penuh keheranan,
"Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh rezeki ini?", Maryam dengan tenang menjawab bahwa itu semua datang langsung dari sisi Allah, karena Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. Jawaban polos namun penuh iman dari Maryam ini seakan menjadi cambuk spiritual yang membangunkan harapan baru dalam jiwa Nabi Zakaria. Logika imannya bekerja dengan sangat cepat dan tajam saat itu. Beliau merenung bahwa jika Allah mampu mendatangkan buah-buahan yang bukan pada musimnya di dalam kamar yang terkunci rapat, maka Allah pun pasti mampu mendatangkan seorang anak bagi dirinya meskipun usianya sudah bukan "musimnya" lagi untuk memiliki keturunan. Pemandangan di mihrab itulah yang menjadi titik balik di mana doa yang selama ini terpendam mulai dipanjatkan dengan frekuensi yang lebih kuat dan keyakinan yang lebih kokoh.
Doa Lirih Yang Menggetarkan Langit
Terinspirasi oleh keteguhan iman Maryam, Nabi Zakaria kemudian memilih waktu-waktu sunyi untuk bermunajat kepada Tuhannya. Al-Qur'an mengabadikan momen syahdu ini dengan sangat indah dalam Surah Maryam, menggambarkan bagaimana beliau berdoa dengan suara yang sangat lembut dan lirih. Beliau tidak berteriak atau mengeraskan suara, karena beliau sadar bahwa Dzat yang ia panggil adalah Maha Mendengar bisikan hati yang paling dalam. Dalam doanya, beliau mengadu tentang kondisi fisiknya yang melemah,
"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, namun aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu."Kalimat ini menunjukkan adab berdoa yang luar biasa, di mana beliau mengakui kelemahan diri sekaligus menegaskan prasangka baiknya kepada Allah yang selama ini selalu mengabulkan permintaannya.
Nabi Zakaria menyampaikan kekhawatirannya bukan karena takut tidak ada yang mengurus dirinya di masa tua, melainkan takut akan nasib umatnya sepeninggal beliau nanti. Beliau khawatir jika tidak ada pewaris yang saleh, maka ajaran Taurat dan risalah kenabian akan terabaikan oleh kerabat-kerabatnya yang perilakunya kurang baik. Oleh karena itu, beliau memohon seorang anak yang "diridhai" (radhiya), yang mampu mewarisi ilmu dari keluarga Yaqub. Doa ini adalah manifestasi dari kepedulian seorang pemimpin sejati yang memikirkan masa depan umatnya jauh melampaui kepentingan pribadinya. Meskipun istrinya mandul dan dirinya sudah tua renta, Nabi Zakaria menyingkirkan hukum sebab-akibat duniawi dan menggantungkan harapannya murni pada kuasa ilahi yang mampu menghidupkan yang mati dan menyuburkan yang tandus.
Kabar Gembira Dan Puasa Bicara
Kesabaran dan keikhlasan yang terpancar dari doa senyap Nabi Zakaria akhirnya menembus pintu-pintu langit. Ketika beliau sedang berdiri melaksanakan salat di mihrabnya, para malaikat datang membawa kabar gembira yang sangat mengejutkan. Allah SWT menyampaikan bahwa Dia akan menganugerahkan seorang putra yang namanya langsung diberikan oleh Allah sendiri, yaitu Yahya. Nama ini sangat istimewa karena belum pernah ada satu orang pun sebelumnya yang memakai nama tersebut. Yahya, yang secara bahasa berarti "hidup", menjadi simbol bahwa rahim yang mati (mandul) bisa dihidupkan kembali oleh Allah untuk melahirkan seorang nabi besar yang kelak akan menjadi pemimpin yang suci dan menahan diri dari hawa nafsu.
Mendengar kabar tersebut, sisi manusiawi Nabi Zakaria sempat muncul kembali. Beliau bertanya dengan takjub,
"Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang istriku mandul dan aku sudah sangat tua?"Allah pun menegaskan bahwa hal itu sangatlah mudah bagi-Nya, sama mudahnya seperti saat Dia menciptakan Zakaria dari tiada menjadi ada. Sebagai tanda bukti kehamilan istrinya nanti, Allah memberikan sebuah tanda unik kepada Zakaria: beliau tidak akan bisa berbicara kepada manusia selama tiga hari tiga malam, padahal beliau dalam keadaan sehat dan tidak bisu. Beliau hanya bisa berkomunikasi menggunakan isyarat tangan. Tanda "puasa bicara" ini menjadi momen bagi Nabi Zakaria untuk sepenuhnya fokus berzikir, bertasbih di waktu pagi dan petang, serta merenungi kebesaran Allah yang telah menjawab penantian panjangnya dengan cara yang paling indah dan tak terduga.
Kesimpulan
Kisah perjalanan hidup Nabi Zakaria a.s. merupakan oase yang menyegarkan bagi setiap jiwa yang sedang dilanda keputusasaan. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa dalam kamus orang beriman, tidak ada kata "terlalu lambat" atau "mustahil" selama kita masih memiliki Allah tempat bersandar. Ujian berupa penantian yang panjang bukanlah tanda bahwa Allah murka atau melupakan hamba-Nya, melainkan cara Allah untuk meningkatkan derajat keimanan dan mempersiapkan hadiah terbaik di waktu yang paling tepat.
Hikmah terbesar dari kisah ini adalah kekuatan doa yang dipanjatkan dengan adab, kerendahan hati, dan keyakinan penuh. Ketika semua pintu logika dunia tertutup rapat, doa adalah kunci utama yang bisa membuka pintu keajaiban langit. Semoga kita dapat meneladani keteguhan hati Nabi Zakaria yang tidak pernah berburuk sangka kepada Tuhannya, dan senantiasa menjaga harapan tetap menyala meskipun badai kehidupan datang silih berganti.
Komentar