Cerita Rakyat Jawa Tengah: Kisah Si Wuragil, anak bungsu yang menipu raksasa dengan menukar selimut dan mencuri sepatu wasiat pelari cepat.
Seringkali dalam dongeng, pahlawan digambarkan sebagai sosok ksatria bertubuh kekar yang ahli memainkan pedang. Namun dalam cerita rakyat dari Jawa Tengah ini, sang pahlawan hanyalah seorang anak bungsu bertubuh kecil yang tidak memiliki senjata tajam, melainkan memiliki otak yang sangat cerdas.
Namanya adalah Si Wuragil (Si Bungsu), satu-satunya anak yang mampu berpikir jernih ketika maut mengancam. Kisahnya mengajarkan kita bahwa dalam situasi paling putus asa sekalipun, ketenangan dan kecerdikan akal adalah senjata yang jauh lebih mematikan daripada kekuatan fisik semata.
Jejak Jagung yang Hilang
Alkisah di sebuah desa di Jawa Tengah, hiduplah sepasang suami istri yang sangat miskin dengan tujuh orang anak laki-laki. Karena himpitan ekonomi yang mencekik dan tak sanggup lagi memberi makan, sang ayah dengan tega merencanakan untuk membuang ketujuh anaknya ke tengah hutan belantara agar mereka tidak kembali lagi.
Wuragil yang cerdas sempat mendengar rencana jahat itu dan mencoba menyelamatkan saudara-saudaranya dengan menebar biji jagung di sepanjang jalan sebagai penunjuk arah pulang. Sayangnya, nasib buruk menimpa mereka karena biji-biji jagung itu habis dimakan burung merpati, membuat tujuh bersaudara itu benar-benar tersesat tanpa arah hingga akhirnya menemukan sebuah rumah besar misterius di tengah hutan.
Menipu Maut di Kandang Raksasa
Ternyata rumah megah itu adalah sarang milik sepasang suami istri Raksasa pemakan manusia. Sang Raksasa jantan yang baru pulang berburu mencium bau manusia ("Bau anyir manusia!"), namun istrinya menyembunyikan Wuragil dan kakak-kakaknya, berjanji bahwa mereka boleh dimakan nanti malam saat sudah tidur lelap.
Sang Raksasa memberikan syarat mengerikan: anak-anak manusialah yang memakai selimut kulit domba, sedangkan anak-anak raksasa memakai selimut kulit harimau. Menyadari nyawanya di ujung tanduk, Wuragil menunggu hingga Raksasa mendengkur, lalu dengan sangat hati-hati menukar selimut kulit domba milik saudaranya dengan selimut kulit harimau milik anak-anak raksasa. Akibatnya fatal bagi sang Raksasa, karena dalam kegelapan malam, ia justru memakan anak-anaknya sendiri yang ia kira sebagai anak manusia.
Pelarian dengan Sepatu Wasiat
Mengetahui sang Raksasa akan segera sadar, Wuragil membangunkan keenam kakaknya untuk kabur, namun sebelum itu ia mencuri Sepatu Wasiat (Sepatu Ajaib) milik sang Raksasa. Sepatu ini bukanlah alas kaki biasa, melainkan pusaka sakti yang memungkinkan pemakainya berlari secepat angin dan melompat sejauh mata memandang.
Ketika Raksasa terbangun dan menyadari kesalahannya, ia mengamuk mengejar mereka. Namun berkat Sepatu Wasiat itu, Wuragil berhasil membawa saudara-saudaranya terbang melesat jauh meninggalkan raksasa itu, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah kerajaan yang sedang mengadakan sayembara lari. Berkat sepatu itu pula, Wuragil memenangkan sayembara, diangkat menjadi raja, dan akhirnya memaafkan kedua orang tuanya yang dulu membuangnya.
Kesimpulan
Kisah Si Wuragil adalah dongeng klasik tentang kemenangan kaum yang lemah melawan kekuatan yang besar dan tirani. Ia mengingatkan kita bahwa ukuran tubuh bukanlah penentu kemenangan; si kecil Wuragil berhasil mengalahkan Raksasa yang besar hanya dengan strategi dan keberanian mengambil risiko.
Selain itu, cerita ini juga menyisipkan pesan moral tentang filial piety (bakti kepada orang tua) yang luar biasa. Meskipun pernah dibuang dan dikhianati, Wuragil pada akhirnya memilih untuk memaafkan dan memuliakan orang tuanya, membuktikan bahwa hati yang besar jauh lebih berharga daripada dendam.
- Gromore Studio Series - "Si Wuragil & 7 Bersaudara".
- Cerita Rakyat Jawa Tengah.
Komentar