Kisah Salman Al-Farisi, mantan budak Persia yang menyelamatkan Madinah. Idenya menggali parit raksasa menjadi strategi perang yang tak terduga.
Dalam sejarah Islam, gelar pahlawan seringkali disematkan kepada mereka yang ahli pedang seperti Khalid bin Walid atau Ali bin Abi Thalib. Namun, ada satu pahlawan yang senjatanya bukanlah pedang tajam, melainkan sebuah ide brilian dan cangkul penggali tanah.
Dialah Salman Al-Farisi, seorang pencari kebenaran yang rela menempuh perjalanan ribuan kilometer dari Persia menuju Arab. Kisah hidupnya adalah bukti nyata bahwa dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh nasab atau suku, melainkan oleh ketakwaan dan kontribusi nyata bagi umat.
Petualang Pencari Cahaya
Salman lahir di Persia (sekarang Iran) sebagai anak dari seorang tokoh masyarakat yang sangat dihormati dan penyembah api yang taat. Namun, hatinya merasa hampa dan tidak puas dengan ajaran nenek moyangnya, sehingga ia memutuskan untuk kabur meninggalkan segala kemewahan demi mencari agama yang benar.
Perjalanannya sangat panjang dan penuh penderitaan, berpindah dari satu pendeta ke pendeta lain di berbagai negeri, hingga akhirnya ia mendapat kabar tentang munculnya Nabi terakhir di tanah Arab. Tragisnya, di tengah perjalanan menuju Arab, ia ditipu oleh rombongan kafilah yang jahat. Bukannya diantar ke tujuan, ia justru dijual sebagai budak kepada seorang Yahudi di Madinah, memaksanya bekerja keras di perkebunan kurma selama bertahun-tahun.
Ancaman Kiamat bagi Madinah
Ujian terbesar bagi umat Islam datang pada tahun ke-5 Hijriyah dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Ahzab atau Perang Khandaq. Saat itu, koalisi besar pasukan musuh yang terdiri dari kaum Quraisy, kabilah Ghathafan, dan sekutu lainnya bersatu padu untuk menghancurkan Madinah sampai ke akar-akarnya.
Jumlah pasukan musuh mencapai 10.000 tentara bersenjata lengkap, sebuah jumlah yang sangat mengerikan dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perang Arab. Sementara itu, pasukan Muslim di Madinah hanya berjumlah sekitar 3.000 orang. Jika mereka bertarung secara terbuka di padang pasir (cara perang konvensional Arab), umat Islam pasti akan terbantai habis dan sejarah Islam mungkin akan berakhir di sana.
Inovasi Parit Sang Insinyur
Di tengah kepanikan dan kebuntuan musyawarah perang, Salman Al-Farisi mengangkat tangan dan menawarkan sebuah strategi militer asing yang tidak pernah dikenal oleh bangsa Arab sebelumnya. Ia berkata,
"Wahai Rasulullah, di negeri Persia, jika kami dikepung musuh berkuda, kami akan menggali parit (khandaq) di sekitar wilayah kami untuk menghalangi mereka."
Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya sangat terkesan dengan ide inovatif tersebut dan segera menyetujuinya meskipun waktu sangat mepet. Selama enam hari enam malam, Rasulullah dan ribuan sahabat bekerja keras menggali parit raksasa selebar 5 meter dan sedalam 3 meter di bagian utara Madinah. Ketika pasukan musuh tiba, mereka terperangah melihat jurang buatan itu dan berkata,
"Ini adalah tipu muslihat yang tidak pernah dikenal oleh orang Arab,"sehingga mereka gagal menembus pertahanan kota.
Kesimpulan
Kisah Salman Al-Farisi mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang sangat terbuka terhadap inovasi dan ilmu pengetahuan, dari mana pun asalnya. Rasulullah SAW tidak menolak ide parit hanya karena itu berasal dari budaya Persia (non-Arab), tetapi beliau menerimanya karena itu adalah solusi yang efektif dan bermanfaat.
Bagi kita di zaman modern, Salman adalah inspirasi untuk menjadi seorang problem solver yang cerdas. Kita harus berani belajar hal-hal baru, berpikir out of the box, dan tidak ragu mengadaptasi teknologi atau strategi asing selama itu membawa kebaikan bagi umat dan agama.
- Sirah Nabawiyah - Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri (Bab Perang Ahzab).
- Rijal Haula Ar-Rasul (Tokoh-tokoh di Sekitar Rasulullah) - Khalid Muhammad Khalid.
Komentar