Kisah Nabi Shaleh dan Kaum Tsamud yang sombong. Mukjizat unta betina yang lahir dari batu karang, hingga azab suara menggelegar yang membinasakan.
Setelah kaum 'Ad musnah karena angin topan, muncullah generasi baru yang tak kalah hebatnya, yaitu Kaum Tsamud.
Mereka adalah arsitek-arsitek jenius di zaman kuno. Mereka tidak membangun rumah dari kayu atau tanah liat, melainkan memahat gunung-gunung batu raksasa menjadi istana yang megah. Mereka hidup makmur, kuat, dan merasa tak terkalahkan.
Namun, kehebatan memahat batu membuat hati mereka ikut mengeras seperti batu. Di tengah kesombongan itulah, Allah mengutus saudara mereka sendiri, Shaleh, untuk mengingatkan mereka.
Tantangan yang Mustahil
Kaum Tsamud menolak dakwah Nabi Shaleh. Mereka meminta bukti yang tidak masuk akal untuk menyudutkan sang Nabi.
| Gambar 1. Ilustrasi Qasr al Farid |
Para pemimpin Tsamud menunjuk sebuah batu karang besar yang keras dan mati. Mereka berkata:
"Wahai Shaleh, jika Tuhanmu benar, keluarkanlah dari batu keras ini seekor unta betina yang hamil 10 bulan, berbulu tebal, dan memiliki sifat-sifat istimewa!"Secara logika manusia, itu mustahil. Batu adalah benda mati, sedangkan unta adalah makhluk hidup. Namun bagi Allah, tidak ada yang mustahil.
Batu Itu Terbelah!
Nabi Shaleh berdoa dengan khusyuk. Tiba-tiba, tanah bergetar. Batu karang besar yang ditunjuk itu mulai retak. Suara gemuruh terdengar, dan perlahan tapi pasti, dari dalam batu itu keluarlah seekor Unta Betina raksasa, persis seperti ciri-ciri yang mereka minta!
| Gambar 2. Ilustrasi Batu Terbelah Muncul Unta |
Kaum Tsamud terbelalak. Sebagian dari mereka langsung bersujud dan beriman karena melihat keajaiban itu dengan mata kepala sendiri. Namun, para pemimpin yang sombong tetap mengingkarinya dan menyebut itu hanyalah sihir.
Ujian Air dan Keangkuhan
Unta itu bukan unta biasa. Ia adalah Naqatullah (Unta Allah). Susu yang dihasilkannya sangat melimpah hingga cukup untuk diminum seluruh penduduk kota.
| Gambar 3. Ilustrasi Unta Minum Air |
Namun, ada syaratnya: Sumber air di desa itu harus dibagi. Satu hari khusus untuk si Unta minum (penduduk tidak boleh ambil air), dan hari berikutnya khusus untuk penduduk (si Unta tidak minum).
Lama-kelamaan, Kaum Tsamud merasa terganggu. Kesombongan dan kebencian kembali merasuki hati para pemimpin mereka. Mereka merencanakan makar jahat: Membunuh simbol Tuhan itu.
Tragedi Qudar bin Salif
Seorang pria kejam bernama Qudar bin Salif (orang paling celaka dari kaum Tsamud) mengajukan diri sebagai eksekutor.
| Gambar 4. Ilustrasi Unta Diserang Orang |
Saat unta itu sedang lewat, Qudar menebas kakinya hingga unta itu jatuh, lalu menyembelihnya. Tidak puas sampai di situ, mereka juga membunuh anak unta tersebut. Dengan congkak, mereka menantang Nabi Shaleh:
"Hai Shaleh, datangkanlah azab yang kamu ancamkan itu jika kamu memang rasul!"Nabi Shaleh menangis dan berkata:
"Bersenang-senanglah kalian di rumah kalian selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak akan didustakan."
Suara yang Mematikan (As-Saihah)
Pada hari keempat, janji itu datang. Bukan banjir besar seperti kaum Nuh, bukan angin ribut seperti kaum 'Ad.
| Gambar 5. Ilustrasi Kota Hancur |
Azab Kaum Tsamud adalah As-Saihah (Satu Suara Keras Menggelegar) dari langit, dibarengi dengan gempa bumi yang dahsyat. Suara itu begitu mengerikan hingga memecahkan gendang telinga dan merobek jantung mereka.
Dalam sekejap, Kaum Tsamud mati bergelimpangan di dalam istana-istana batu kebanggaan mereka. Rumah yang mereka pahat dengan susah payah menjadi kuburan massal mereka sendiri. Nabi Shaleh dan pengikutnya yang beriman selamat dan berpindah ke tempat lain.
Kesimpulan
Kisah Nabi Shaleh adalah peringatan keras bagi manusia yang merasa hebat dengan teknologi dan bangunan fisiknya. Kaum Tsamud bisa memahat gunung, tapi mereka tidak bisa melembutkan hati mereka sendiri. Peninggalan mereka di Mada'in Saleh kini menjadi destinasi wisata, namun Rasulullah pernah berpesan agar kita melewatinya dengan menangis (takut), karena itu adalah tempat turunnya kemurkaan Allah.
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Referensi
- Al-Qur'an: Surah Al-A'raf (73-79), Surah Hud (61-68).
- Qishashul Anbiya (Kisah Para Nabi) - Ibnu Katsir.
Komentar