Hujan deras pukul 11 malam. Seseorang mengetuk pintu kosku meminta air. Pertemuan singkat itu terasa biasa, hingga esok paginya logika saya runtuh.
Hujan malam itu turun seperti ditumpahkan dari langit. Angin kencang membuat jendela kamarku bergetar pelan. Aku ingat betul, jarum jam dinding di kamar kosku menunjuk angka 11:15 malam.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang dikejar deadline skripsi, aku masih terjaga. Suasana kosan sudah mati suri, penghuni lain pasti sudah terlelap di balik selimut. Hanya ada suara hujan, suara detak jam, dan suara ketikan keyboard laptopku.
Tiba-tiba... Tok! Tok! Tok!
Ada ketukan pelan di pintu kosku.
Jantungku tersentak. Bulu kudukku sedikit meremang, bukan karena takut hantu, tapi karena bingung. Siapa yang bertamu di tengah badai dan selarut ini? Paket? Teman iseng? Atau... sesuatu yang lain?
Dengan ragu, aku melangkah menuju pintu
Wajah Pucat di Balik Pintu
Aku membuka pintu sedikit. Di sana berdiri seorang bapak paruh baya, mengenakan jas hujan plastik tipis berwarna biru yang sudah robek di sana-sini. Tubuhnya basah kuyup, menggigil hebat. Wajahnya... pucat pasi, seperti tidak ada aliran darah sama sekali.
| Gambar 1. Ilsutrasi Pintu Kos |
"Mas... maaf mengganggu,"suaranya lirih, serak, dan berat.
"Motor bapak mogok di depan gang. Boleh minta air putih sedikit? Bapak haus sekali, belum minum dari sore."Melihat kondisinya yang menyedihkan, rasa takutku hilang berganti iba.
"Oh, iya Pak, sebentar."
Gelas yang Tertinggal
Aku mengambilkan segelas air hangat. Bapak itu meminumnya dalam sekali teguk. Tangannya saat bersentuhan dengan tanganku terasa sangat dingin, seperti memegang es batu.
| Gambar 2. Ilsutrasi Gelas Berisi Air Putih |
"Terima kasih ya, Mas. Semoga sukses skripsinya,"ucapnya sambil tersenyum kaku.
Ia lalu berbalik badan, berjalan terseok-seok menembus hujan ke arah jalan raya. Aku menutup pintu, merasa sedikit aneh dengan hawa dingin yang tiba-tiba tertinggal di ruangan. Gelas bekas minumnya kutaruh di meja luar.
Berita Duka di Pagi Hari
Keesokan paginya, aku berangkat kuliah. Di jalan raya depan gang kos, ada kerumunan warga dan polisi. Rupanya ada kecelakaan tunggal yang belum dievakuasi.
| Gambar 3. Ilustrasi Kerumunan |
Aku bertanya pada penjual rokok di dekat sana. "Ada apa, Bang?"
"Kecelakaan tadi malam, Mas. Kasihan, bapak-bapak tabrak lari. Motornya hancur masuk selokan."Iseng, aku mendekat untuk melihat. Betapa terkejutnya aku saat melihat motor yang diangkut polisi. Dan lebih syok lagi saat melihat jas hujan plastik biru robek-robek yang diamankan petugas. Itu persis yang dipakai bapak semalam!
Jam Kematian yang Mustahil
Aku memberanikan diri bertanya pada polisi.
| Gambar 4. Ilustrasi Jam Rusak |
"Pak, kejadiannya jam berapa?"Polisi itu menjawab sambil mencatat,
"Saksi warga bilang sekitar jam 9 malam pas hujan deras mulai turun. Korban meninggal di tempat karena pendarahan hebat."Kakiku lemas seketika.
Jam 9 malam? Bapak itu meninggal jam 9 malam?
Lalu... siapa yang mengetuk pintu kosku jam 11 malam tadi? Siapa yang meminum air dari gelasku dengan tangan sedingin es itu?
Kesimpulan
Sampai hari ini, aku tidak berani menyentuh gelas bekas bapak itu. Gelas itu akhirnya kubuang. Aku tidak tahu apakah itu arwah yang kehausan atau sekadar halusinasi skripsiku. Tapi satu hal yang pasti: doanya agar skripsiku sukses, terasa tulus dari alam yang berbeda.
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Komentar