Fisiknya dihina di bumi, tapi harum di langit. Kisah haru Julaibib, sahabat buruk rupa yang gugur syahid di pangkuan Rasulullah.
Di Madinah, ada seorang pria yang nasibnya begitu malang. Ia tidak punya kabilah yang melindunginya, tidak punya harta, dan yang paling menyedihkan, fisiknya dianggap "cacat" oleh masyarakat.
Ia pendek, bungkuk, berkulit sangat hitam, dan wajahnya tidak sedap dipandang. Gadis-gadis Madinah akan memalingkan muka jika berpapasan dengannya.
Namanya Julaibib. Di bumi ia tidak berharga, namun siapa sangka, namanya justru sangat terkenal dan diperebutkan oleh para bidadari di langit.
Lamaran yang Membuat Terkejut
Suatu hari, Rasulullah SAW berniat menikahkan Julaibib. Beliau melamar putri seorang sahabat Anshar yang dikenal sangat cantik dan bertaqwa.
| Gambar 1. Ilustrasi Wanita Muslimah |
Awalnya, orang tua sang gadis sangat senang karena mengira Rasulullah yang melamar untuk dirinya sendiri. Namun saat Rasulullah berkata,
"Bukan untukku, tapi untuk Julaibib,"wajah sang ayah berubah pucat. Ibunya bahkan menolak keras,
"Demi Allah, tidak! Apakah tidak ada orang lain selain Julaibib?"Namun, sang gadis cantik itu keluar dari kamarnya dan berkata tegas:
"Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Nikahkan aku dengannya, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan aku."
Malam Pertama di Medan Perang
Pernikahan pun terjadi. Namun, takdir berkata lain. Belum sempat mereka menikmati manisnya malam pertama dan kehidupan rumah tangga, seruan jihad berkumandang.
| Gambar 2. Ilustrasi Pedang Tertancap di Pasir |
Julaibib dihadapkan pada dua pilihan: Berdiam di kamar pengantin bersama istri cantiknya, atau menyambut seruan Allah ke medan perang. Tanpa ragu sedikit pun, Julaibib mengambil pedangnya. Ia meninggalkan "surga dunia"-nya demi mengejar surga yang abadi. Ia berlari menuju barisan depan, menyembunyikan wajahnya di balik debu pertempuran.
Tujuh Musuh dan Satu Syahid
Perang usai. Saat para sahabat sibuk mencari keluarga mereka yang gugur, Rasulullah justru bertanya:
"Apakah kalian kehilangan seseorang?"Sahabat menjawab fulan, fulan, dan fulan. Rasulullah bertanya lagi dengan nada mendesak:
"Apakah kalian kehilangan seseorang?"Sahabat bingung. Rasulullah akhirnya berkata lirih:
"Tetapi aku kehilangan Julaibib. Carilah dia."
| Gambar 3. Ilustrasi Satu Orang Melawan Banyak Orang |
Mereka akhirnya menemukannya tergeletak di antara tujuh mayat musuh. Julaibib bertarung sendirian melawan tujuh orang, membunuh mereka semua, sebelum akhirnya ia sendiri gugur penuh luka.
Bantal Lengan Sang Nabi
Momen selanjutnya membuat seluruh sahabat menangis iri. Rasulullah SAW mendatangi jasad Julaibib, mengangkat kepalanya, dan meletakkannya di pangkuan beliau. Dengan mata berkaca-kaca, Rasulullah membersihkan tanah dari wajah Julaibib dan berkata:
"Engkau membunuh tujuh orang, lalu mereka membunuhmu. Engkau adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian darimu."
| Gambar 4. Ilustrasi Makam yang Indah |
Kalimat itu diulang tiga kali. Rasulullah sendiri yang menggali kuburnya, dan Rasulullah sendiri yang membaringkannya ke liang lahat. Tidak ada kasur yang lebih empuk di dunia ini selain lengan Rasulullah SAW.
Kesimpulan
Kisah Julaibib menampar kita yang sering menilai orang dari rupa, harta, dan status sosial. Di mata manusia, ia mungkin buruk rupa dan hina. Tapi di mata Allah dan Rasul-Nya, ia begitu mulia hingga Rasulullah mengakuinya sebagai "bagian dari dirinya". Ingatlah, Allah tidak melihat bentuk rupa dan hartamu, tapi Allah melihat hati dan amalmu.
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Referensi
- HR. Muslim - Kisah Syahidnya Julaybib
- Sirah Nabawiyah
Komentar