Saat Nabi Daud membaca Zabur, burung berhenti terbang dan gunung ikut bertasbih. Kisah harmoni semesta yang tunduk pada lantunan ayat suci.
Dalam sejarah kenabian, Nabi Daud a.s. sering dikenang sebagai ksatria perkasa. Dialah penakluk raksasa Jalut (Goliath) dengan ketapel, dan dialah Raja yang mampu melunakkan besi dengan tangan kosong.
Namun, di balik kegagahan itu, tersimpan kelembutan yang mampu menundukkan hukum alam. Kekuatan beliau tidak hanya terletak pada otot yang kuat, melainkan juga pada kedalaman spiritual yang menyentuh hati semesta.
Allah SWT menganugerahkan satu mukjizat yang tidak berhubungan dengan perang, melainkan dengan keindahan suara. Saat Nabi Daud membaca Kitab Zabur, alam semesta seolah berhenti berputar sejenak untuk menjadi pengikut (makmum) dalam dzikirnya.
Lantunan yang Menyembuhkan Jiwa
Suara Nabi Daud a.s. disebut sebagai suara terindah yang pernah diciptakan Tuhan untuk manusia. Tidak ada satu pun instrumen musik di dunia ini yang mampu menandingi kemerduan alami yang keluar dari tenggorokan beliau.
Dikisahkan, lantunan ayat-ayat Zabur dari lisan beliau memiliki efek penyembuhan (healing). Orang yang sakit demam bisa sembuh hanya dengan mendengarnya, dan hati yang gelisah menjadi tenang seketika. Suara itu bukan hanya masuk ke telinga, tapi meresap jauh ke dalam relung jiwa.
Saat Sayap-Sayap Terhenti di Angkasa
Keajaiban terbesar terjadi di angkasa. Allah berfirman dalam Al-Qur'an (Surah Saba: 10):
"Wahai gunung-gunung dan burung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud."Ini adalah perintah langsung dari Pencipta agar alam tunduk pada lantunan zikir tersebut.
Biasanya, burung berkicau bising dan terbang kesana-kemari. Namun saat Nabi Daud mulai bertasbih, burung-burung liar itu tunduk. Mereka berhenti terbang, menahan sayap di udara, dan diam mendengarkan.
Setelah Nabi selesai satu ayat, burung-burung itu akan menyahut dengan kicauan tasbih dalam bahasa mereka sendiri, seolah-olah mereka adalah paduan suara yang dipimpin oleh sang Nabi. Mereka menyatu dalam harmoni ilahi, melupakan insting liar mereka demi memuji Tuhan bersama manusia pilihan.
Gunung yang Bergetar dalam Dzikir
Tidak hanya makhluk hidup, benda mati yang kokoh seperti Gunung pun menjadi makmum. Bebatuan cadas yang diam membeku itu ternyata memiliki 'telinga' spiritual yang peka terhadap seruan ilahi.
Ketika suara emas Nabi Daud menggema di lembah, gunung-gunung itu memantulkan gema yang berbeda. Itu bukan sekadar pantulan fisika (gema biasa), melainkan respon spiritual. Gunung-gunung itu ikut bertasbih, bergetar memuji kebesaran Allah mengikuti irama dzikir Nabi Daud.
Harmoni ini menunjukkan bahwa di hadapan keagungan Allah, tidak ada bedanya antara manusia, hewan, dan batu—semuanya tunduk dalam satu orkestra ibadah. Semuanya melebur menjadi satu kesatuan hamba yang taat, mengagungkan Sang Pencipta semesta alam.
Kesimpulan
Kisah ini mengajarkan kita tentang Estetika Iman. Keindahan seni (suara) bisa menjadi sarana ibadah yang dahsyat jika ditujukan untuk Allah. Nabi Daud mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang otot yang bisa membengkokkan besi, tapi juga tentang hati yang bisa membuat gunung dan burung ikut menangis dalam rindu kepada Sang Pencipta.
Mari kita jadikan kisah ini sebagai pengingat bagi diri kita sendiri. Bahwa sekeras apapun hati atau masalah yang kita hadapi, ia bisa luluh dengan dzikir yang tulus, sebagaimana besi dan gunung luluh di hadapan Nabi Daud a.s.
- Al-Qur'an - Surah Saba ayat 10 & Surah Al-Anbiya ayat 79.
- Qishashul Anbiya - Ibnu Katsir (Kisah Nabi Daud).
Komentar