Hartanya ludes, anaknya wafat, tubuhnya digerogoti penyakit. Kisah Nabi Ayyub AS, simbol kesabaran mutlak yang membuat Iblis menyerah.
Sabar itu ada batasnya? Bagi Nabi Ayyub AS, jawabannya adalah tidak.
Bayangkan jika kamu adalah orang terkaya di negerimu, punya ribuan ternak, tanah luas, rumah mewah, dan anak-anak yang banyak. Lalu dalam sekejap mata, semuanya lenyap. Harta terbakar, anak meninggal, dan tubuhmu digerogoti penyakit menjijikkan.
Apakah kamu masih bisa memuji Tuhanmu? Nabi Ayyub bisa. Inilah kisah kesabaran level langit yang membuat para malaikat kagum.
Sasaran Iri Dengki Sang Iblis
Nabi Ayyub AS adalah orang yang sangat kaya raya di dataran Hauran. Meski bergelimang harta, beliau sangat dermawan dan rajin beribadah.
"Ayyub itu taat cuma karena Engkau memberinya kenikmatan! Coba kalau miskin, pasti dia akan berpaling."Allah pun mengizinkan Iblis untuk menguji Ayyub. Mulailah rangkaian teror itu. Dalam waktu singkat, seluruh ternaknya mati, ladangnya terbakar, dan rumahnya rubuh menewaskan seluruh anak-anaknya.
Apa respon Nabi Ayyub? Beliau hanya berkata:
"Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil."
Tubuh yang Hancur, Hati yang Utuh
Gagal dengan harta, Iblis menyerang fisik. Nabi Ayyub ditimpa penyakit kulit yang sangat parah. Dikatakan bahwa tidak ada satu pori-pori pun di tubuhnya yang selamat dari luka, kecuali hati dan lidahnya yang beliau minta tetap utuh untuk berzikir.
Hanya satu orang yang setia: Istrinya, Siti Rahmah. Ia dengan sabar merawat Nabi Ayyub yang sakit parah selama bertahun-tahun (ada yang menyebut 7 tahun, ada yang menyebut 18 tahun).
Hentakan Kaki yang Menyembuhkan
Puncaknya, ketika Nabi Ayyub merasa fisiknya sudah terlalu lemah untuk beribadah dengan sempurna, beliau berdoa dengan lirih:
"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (QS. Al-Anbiya: 83).Allah langsung menjawab doa yang santun itu. Allah berfirman:
"Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum."
Kembalinya Sang Cahaya
Kesabaran itu berbuah manis. Allah tidak hanya menyembuhkan penyakitnya, tapi juga mengembalikan kekayaannya dua kali lipat.
Kesimpulan
Kisah Nabi Ayyub AS mengajarkan kita bahwa ujian seberat apapun—kebangkrutan, penyakit, kehilangan—hanyalah sementara. Senjata terbaik untuk melawannya bukan hanya obat dokter, tapi prasangka baik kepada Allah. Jika Nabi Ayyub bisa bersabar saat kehilangan segalanya, malu rasanya jika kita mengeluh hanya karena masalah sepele.
- Al-Qur'an Surah Al-Anbiya: 83-84
- Al-Qur'an Surah Shad: 41-44
- Kitab Qishashul Anbiya (Kisah Para Nabi) - Ibnu Katsir.
Komentar