Aku selalu malu dengan sepatu butut Ayah. Namun setelah beliau tiada, sebuah buku catatan tua mengungkap alasan di balik sifat 'pelit'-nya selama ini.
Dulu, aku selalu malu berjalan bersisian dengan Ayah.
Bukan karena fisiknya, tapi karena penampilannya. Ayah adalah pegawai rendahan di sebuah pabrik, tapi yang membuatku kesal adalah betapa "pelitnya" beliau pada diri sendiri.
Kemejanya itu-itu saja, warnanya sudah pudar. Motornya butut dan sering mogok. Tapi yang paling membuatku risih adalah sepatu pantofel hitamnya.
Sepatu itu sudah retak-retak kulitnya. Solnya sudah tipis, bahkan pernah dijahit benang kasur karena lepas. Berkali-kali aku bilang, "Yah, beli yang baru kenapa sih? Malu dilihat orang."
Ayah cuma tersenyum tipis, "Masih bisa dipakai, Nak. Sayang uangnya."
Dalam hati aku menggerutu, "Dasar pelit." Padahal gajinya rutin, masa beli sepatu harga 100 ribu saja tidak mau?
Permintaan yang Menyakitkan
Puncak kekesalanku terjadi saat aku masuk kuliah. Teman-temanku pakai laptop baru. Aku merengek minta dibelikan juga, padahal laptop lamaku masih menyala, cuma agak lambat.
"Nanti Ayah usahakan ya,"katanya pelan.
Seminggu kemudian, Ayah pulang membawa laptop baru yang kuminta. Aku senang bukan main, tanpa peduli dari mana uangnya. Aku sibuk dengan duniaku sendiri, sementara Ayah tetap berjalan ke pabrik dengan sepatu retaknya yang makin parah.
Lemari yang Menyimpan Rahasia
Waktu berlalu, hingga kabar duka itu datang. Ayah meninggal mendadak karena serangan jantung di tempat kerja.
Saat itu aku sedang membereskan lemari pakaian Ayah. Isinya sangat sedikit. Di laci terbawah, di bawah tumpukan kaus oblong yang sudah bolong, aku menemukan sebuah buku catatan kecil.
Itu adalah buku kas harian Ayah.
Aku membukanya. Tulisannya rapi. Mataku memanas saat membaca rincian pengeluarannya selama bertahun-tahun.
- Januari: Servis motor (ditunda), uangnya buat bayar kos si Kakak.
- Maret: Sepatu jebol lagi (lem), uangnya buat tambah beli laptop Kakak.
- Agustus: Makan siang (bawa bekal), biar bisa nabung buat wisuda Kakak.
Tangisan yang Terlambat
Ternyata, Ayah bukan pelit. Ayah bukan tidak ingin tampil gagah. Ayah menahan diri untuk tidak membeli sepasang sepatu seharga 100 ribu, hanya agar aku bisa membeli laptop seharga 5 juta.
Hari itu, aku memeluk sepatu butut Ayah yang belum sempat kubuang. Baunya apek, kulitnya kasar, tapi itu adalah benda terindah yang pernah kulihat.
Pesan untuk Pembaca
Jangan pernah meremehkan orang tuamu yang terlihat "kuno" atau "pelit". Di balik baju lusuh mereka, mungkin tersimpan mimpi-mimpi mereka sendiri yang rela mereka bunuh, asalkan mimpi kalian tetap hidup.
Sayangi mereka selagi masih ada. Jangan sampai kalian menyesal saat menemukan "buku catatan" mereka ketika mereka sudah tiada.
Komentar