Memimpin 2.000 janda melawan penjajah, Laksamana Malahayati menorehkan sejarah dengan membunuh Cornelis de Houtman dalam duel satu lawan satu.

Dunia mengenal Wonder Woman dalam komik, tapi Aceh memiliki Wonder Woman di dunia nyata pada abad ke-16.
Ia adalah wanita pertama di dunia modern yang menyandang pangkat Laksamana (Admiral). Namanya disegani oleh Ratu Elizabeth I dari Inggris dan ditakuti oleh armada Belanda.
Dialah Keumalahayati, wanita yang mengubah rasa duka kehilangan suami menjadi amarah yang menghancurkan penjajah.
Air Mata yang Berubah Jadi Baja
Kisah ini bermula dari sebuah tragedi. Suami Malahayati, Laksamana Zainal Abidin, gugur dalam pertempuran laut melawan Portugis di Teluk Haru.
Ia meminta izin kepada Sultan Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah, untuk membentuk pasukannya sendiri. Uniknya, seluruh prajurit pasukan ini adalah janda yang suaminya juga gugur dalam perang.
Pasukan Inong Balee
Terbentuklah Armada Inong Balee (Pasukan Janda).
Di bawah komando Laksamana Malahayati, para janda ini bertransformasi menjadi mesin perang yang disiplin, menjaga Selat Malaka dari gangguan kapal asing.
Duel Maut di Atas Geladak
Ujian sesungguhnya datang pada tahun 1599. Kapal Belanda yang dipimpin oleh dua bersaudara arogan, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman, membuat onar di pelabuhan Aceh. Mereka berkhianat dan menyerang.
Di atas geladak kapal de Leeuw, terjadi duel legendaris satu lawan satu. Malahayati berhadapan langsung dengan Cornelis de Houtman.
Dengan ketangkasan bela diri dan keberanian luar biasa, Malahayati berhasil menghunuskan rencongnya. Cornelis de Houtman, penjelajah Belanda yang sombong itu, tewas di tangan seorang wanita Aceh.
Diplomasi yang Disegani Dunia
Kematian de Houtman mengguncang Eropa. Sejak saat itu, bangsa asing mulai menaruh hormat pada Kesultanan Aceh.
Kesimpulan
Laksamana Malahayati membuktikan bahwa kepemimpinan dan keberanian tidak memandang gender. Ia mengajarkan kita bahwa rasa sakit (sebagai janda korban perang) bisa diubah menjadi kekuatan dahsyat untuk membela harga diri bangsa. Namanya kini abadi, bukan hanya sebagai nama jalan atau pelabuhan, tapi sebagai simbol kedaulatan Nusantara.
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Referensi
- Marie van Zanten - Voce: The Dutch East India Company (Catatan sejarah Belanda tentang kematian de Houtman).
- Museum TNI - Sejarah Laksamana Malahayati.
Komentar