Lahir di gua dan dibesarkan alam, Biwar tumbuh menjadi pendekar. Inilah legenda heroik dari Papua tentang pemuda yang menaklukan naga sungai.
Tanah Papua tidak hanya menyimpan kekayaan alam yang melimpah, tapi juga kisah kepahlawanan yang menakjubkan. Salah satu yang paling melegenda adalah kisah Biwar, seorang pemuda dari Mimika yang lahir di tengah hutan dan tumbuh dengan satu tujuan: mengalahkan monster yang telah menghancurkan keluarganya.
Ini bukan sekadar dongeng, tapi kisah tentang keberanian menatap mata ketakutan.
Tragedi di Sungai Sagu
Kisah bermula di sebuah kampung di Mimika. Saat itu, persediaan sagu menipis. Para penduduk, termasuk ayah dan ibu Biwar (yang saat itu sedang hamil), pergi menyusuri sungai untuk mencari pohon sagu.
| Gambar 1. Ilustrasi Naga Menghancurkan Perahu Masyarakat |
Awalnya panen berjalan lancar. Namun saat perjalanan pulang, air sungai tiba-tiba bergejolak. Seekor Naga Raksasa muncul dari kedalaman! Naga itu tidak hanya bisa berenang, tapi juga terbang dan menyemburkan api.
Ayah Biwar melakukan pengorbanan terakhir yang sangat heroik. Ia menjadikan dirinya umpan agar istrinya bisa lari menyelamatkan diri ke dalam hutan. Sang ayah gugur, dan sang ibu selamat meski harus hidup sebatang kara di tengah rimba.
Lahir dan Tumbuh di Dalam Gua
Ibu Biwar bersembunyi di sebuah gua batu. Di sanalah Biwar lahir. Ia tumbuh tanpa mengenal dunia luar, hanya ditemani ibunya dan suara hutan.
| Gambar 2. Ilustrasi Ibu Menjaga Anaknya di Goa |
Sang ibu mendidiknya menjadi pemuda yang tangguh. Biwar diajari memanah, berburu, dan menghormati alam. Namun, sang ibu selalu melarang Biwar mendekati sungai besar tempat naga itu tinggal.
Hingga suatu hari, Biwar yang sudah beranjak dewasa membawa pulang ikan besar dari sungai terlarang itu. Ibunya marah sekaligus ketakutan, dan akhirnya menceritakan kebenaran pahit tentang kematian ayahnya.
Duel Tombak Lawan Semburan Api
Mendengar cerita itu, darah muda Biwar mendidih. Ia tidak mau hidup dalam ketakutan selamanya. Ia ingin membalas kematian ayahnya dan membawa ibunya pulang ke kampung halaman.
| Gambar 3. Ilustrasi Biwar Melawan Naga |
Biwar pergi ke sungai dan menantang naga itu keluar. Pertarungan sengit terjadi! Biwar menghujani naga itu dengan panah dan tombak, tapi kulit naga itu terlalu keras. Senjata biasa tidak mempan.
Naga itu mengamuk dan menyemburkan api panas. Biwar terdesak. Namun, Biwar ingat pelajaran ibunya untuk memanfaatkan alam. Ia tidak lari, melainkan memancing naga itu ke dekat tebing curam.
Batu Raksasa Pengakhir Teror
Saat naga itu membuka mulut lebar-lebar untuk menyemburkan api terakhirnya, Biwar dengan sekuat tenaga mendorong sebuah batu raksasa dari atas tebing.
Gambar 4. Ilustrasi Naga Tertimpa Batu Besar
Brakkk!
Batu itu tepat menghantam kepala sang naga. Monster yang ditakuti seluruh kampung itu pun roboh dan hanyut terbawa arus sungai. Sungai itu akhirnya bebas dari teror.
Biwar kemudian membuat perahu, membawa ibunya pulang, dan disambut sebagai pahlawan besar. Ia membuktikan bahwa anak yang lahir di gua bisa menjadi pelindung bagi bangsanya.
Kesimpulan
Legenda Biwar mengajarkan kita tentang Bakti kepada Orang Tua dan Keberanian. Biwar bisa saja memilih hidup aman di gua, tapi ia memilih menghadapi rasa takutnya demi memberikan kehidupan yang layak bagi ibunya. Kejahatan sekuat apa pun (simbol Naga), akan kalah oleh keberanian yang disertai strategi (simbol Biwar).
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Dromore Studio & Generate AI
Referensi
- Gromore Studio Series - Kisah Biwar Sang Penakluk Naga.
- Warisan Budaya Takbenda Indonesia - Tradisi Lisan Mimika.
Komentar