Dikutuk mertua sendiri! Kisah Joko Pandelegan, saudagar kikir yang berubah menjadi Candi Pari karena mengabaikan janji dan panggilan orang tua.
Jika kamu berkunjung ke wilayah Porong, Sidoarjo, pandanganmu akan tertuju pada sebuah bangunan bata merah yang berdiri kontras di tengah pemukiman dan persawahan hijau. Situs bersejarah ini memiliki bentuk yang tidak biasa, seolah-olah menyimpan sebuah memori kaku dari masa lalu Kerajaan Majapahit. Namun, di balik kemegahan arsitekturnya, masyarakat setempat menyimpan sebuah narasi tentang sepasang manusia yang terperangkap dalam keabadian akibat sebuah kesalahan yang tidak termaafkan.
Bangunan ini dikenal sebagai Candi Pari. Berbeda dengan tempat pemujaan lain yang dibangun atas instruksi raja, keberadaan tempat ini diyakini sebagai hasil dari sebuah sabda yang menjadi kenyataan. Ini bukan sekadar tentang tumpukan batu, melainkan tentang sebuah pengingat abadi bagi siapa saja yang mulai merasa bahwa harta adalah segalanya hingga melupakan akar dan janji suci yang pernah diucapkan.
Amanah Benih Ajaib Dan Syarat Kemakmuran Hakiki
Alkisah, terdapat seorang pertapa sakti bernama Ki Gede Penanggungan yang memberikan bekal istimewa bagi menantunya, Joko Pandelegan, dan putrinya, Dewi Walang Angin. Bekal itu berupa benih padi yang sangat luar biasa. Benih ini adalah pemberian berharga yang jika dirawat dengan baik akan membawa kekayaan yang tak pernah habis bagi siapa pun yang menanamnya dengan hati yang tulus.
Namun, kemudahan tersebut datang dengan sebuah syarat yang sangat penting. Sang pertapa berpesan:
"Tanamlah ini, kalian akan hidup makmur. Tapi ingat, jika kalian sudah kaya, jangan pelit. Bantulah orang-orang yang sedang susah."Janji pun diucapkan, dan dalam waktu singkat, sawah mereka membuahkan hasil melimpah yang membuat mereka menjadi orang paling kaya di daerah itu. Sayangnya, harta yang berlimpah mulai mengubah cara mereka memandang dunia.
Ketika Harta Menutup Pintu Empati
Seiring dengan meluapnya hasil panen, karakter pasangan ini mengalami perubahan drastis. Harta yang melimpah bukannya mengalir untuk membantu sesama, malah menumpuk tinggi di balik dinding lumbung yang tertutup rapat. Mereka mulai memandang rendah orang-orang di sekitar mereka, menganggap bahwa keberuntungan mereka adalah murni hasil kerja keras sendiri tanpa campur tangan doa dan amanah dari sang orang tua.
Puncaknya adalah ketika mereka dengan kejam mengusir tetangga yang datang meminta bantuan karena kelaparan. Joko Pandelegan bukannya memberi, malah menghina:
"Enak saja minta-minta! Kerja keras sana sepertiku!"Janji masa lalu untuk saling menolong telah mereka lupakan, digantikan oleh sifat kikir yang sangat kuat. Mereka tidak lagi peduli pada nasib orang lain, seolah-olah hati mereka sudah mulai mengeras dan tidak lagi bisa merasakan kesedihan sesama yang sedang membutuhkan uluran tangan.
Detik-Detik Kutukan Dan Terbentuknya Monumen Bisu
Kabar tentang perubahan sifat mereka akhirnya sampai ke telinga Ki Gede Penanggungan. Sang pertapa turun gunung untuk melihat langsung dan mencoba menasihati anak-anaknya agar kembali menjadi orang baik.
"Joko! Anakku Walang Angin! Kemarilah sebentar!"panggil Ki Gede dengan sabar. Namun, rasa sombong yang sudah telanjur tinggi membuat Joko dan istrinya memilih untuk mengabaikan sapaan tersebut. Mereka pura-pura tidak mendengar dan tetap sibuk bekerja memunggungi sang ayah seolah-olah keberadaan orang tua mereka tidak lagi penting.
Sikap keras kepala ini membuat Ki Gede sangat kecewa. Berkali-kali dipanggil, mereka tetap saja diam membisu dan tak mau menoleh sedikit pun. Rasa hormat kepada orang tua benar-benar telah hilang dari hati mereka. Hal inilah yang memicu kemarahan alam, karena tindakan mengabaikan orang tua yang telah berjasa adalah sebuah kesalahan besar yang harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Kekecewaan sang pertapa memuncak hingga ia berucap:
"Kalian ini dipanggil orang tua kok diam saja, kaku seperti Candi!"Seketika itu juga, langit berubah gelap dan kilat menyambar. Tubuh Joko Pandelegan dan istrinya yang penuh kesombongan itu berubah menjadi kaku dan tak bisa bergerak lagi. Mereka benar-benar berubah menjadi bangunan batu bata merah yang kokoh di tempat mereka bekerja, yang kini kita kenal sebagai situs Candi Pari.
Kesimpulan
Kisah Candi Pari mengajarkan kita bahwa kekayaan bukanlah segalanya jika kita harus kehilangan rasa kemanusiaan dan bakti kepada orang tua. Sifat kikir dan sombong hanya akan menjauhkan kita dari kebahagiaan yang sebenarnya. Kita harus selalu ingat untuk tetap rendah hati dan gemar menolong sesama, karena harta yang kita miliki saat ini hanyalah titipan yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan banyak orang.
Menghargai cerita ini berarti menghargai hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita. Sebagai manusia, kita bisa mengambil pelajaran bahwa dalam mengejar kesuksesan, kejujuran dan rasa hormat harus tetap dijaga. Semoga legenda dari Sidoarjo ini menginspirasi kita semua untuk selalu menjadi pribadi yang baik hati, suka berbagi, dan tidak pernah lupa akan asal-usul kita agar hidup kita menjadi lebih tenang dan penuh berkah.
- Gromore Studio Series - "Legenda Asal Usul Candi Pari Sidoarjo".
- Dinas Pariwisata Sidoarjo - "Sejarah Situs Budaya Candi Pari & Candi Sumur".
- Jurnal Kebudayaan - "Makna Filosofis Kutukan Batu dalam Cerita Rakyat Jawa".
Komentar