Kisah Wahshi bin Harb yang menggunakan tombaknya untuk membunuh orang terbaik dan orang terburuk demi menebus dosa masa lalu.
Di bawah terik matahari Padang Pasir Uhud yang membakar kulit, seorang budak dari Habasyah (Ethiopia) bernama Wahshi bin Harb bersembunyi di balik sebuah batu besar. Matanya yang tajam tidak memperhatikan jalannya pertempuran kolosal antara pasukan Mekkah dan Madinah yang sedang berkecamuk di depannya. Ia tidak peduli siapa yang menang atau kalah hari itu. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah tombak pendek khas Afrika yang menjadi keahliannya. Pikirannya hanya terfokus pada satu tujuan pragmatis: kebebasan. Tuannya, Jubair bin Muth'im, dan Hindun binti Utbah telah menjanjikan satu hal yang paling diidamkan oleh setiap budak: kemerdekaan dan harta melimpah, dengan satu syarat mutlak, yaitu membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, sang Singa Allah, paman kesayangan Nabi Muhammad SAW.
Wahshi menunggu dengan sabar layaknya seekor predator, mengamati sosok Hamzah yang sedang mengamuk di medan perang bagaikan badai yang tak terhentikan. Ketika Hamzah lengah karena tergelincir di tanah basah, Wahshi melihat celah itu. Dengan gerakan terlatih, ia memutar tubuhnya dan melemparkan tombaknya sekuat tenaga. Senjata itu melesat membelah udara, menghantam tubuh sang pahlawan Islam, dan merenggut nyawanya seketika. Hari itu, Wahshi mendapatkan kemerdekaannya, ia pulang dengan emas dan status sebagai orang bebas. Namun, ia tidak menyadari bahwa kebebasan fisiknya itu adalah awal dari penjara batin yang akan menghantuinya selama bertahun-tahun. Ia telah memadamkan cahaya di mata Rasulullah, sebuah dosa yang bayangannya akan terus mengejarnya melebihi bayangan tubuhnya sendiri.
Wajah Yang Tak Sanggup Ditatap
Tahun berganti tahun, roda nasib berputar. Mekkah akhirnya takluk di bawah panji Islam dalam peristiwa Fathu Makkah. Wahshi, yang ketakutan akan pembalasan, melarikan diri ke Thaif, namun akhirnya hidayah Allah mengetuk pintu hatinya yang keras. Dengan langkah gemetar dan hati yang dipenuhi keraguan, ia memberanikan diri datang ke Madinah untuk bersyahadat di hadapan Rasulullah SAW. Saat ia melangkah masuk ke masjid, suasana hening mencekam. Wahshi mengucapkan kalimat syahadat, dan Rasulullah menerimanya sebagai saudara seiman. Darahnya terlindungi, dosanya diampuni oleh Tuhan. Namun, ada satu luka kemanusiaan yang tak bisa serta-merta sembuh di hati Sang Nabi.
Ketika Rasulullah mengetahui bahwa pria di hadapannya adalah Wahshi, beliau bertanya dengan suara lirih,
"Apakah engkau yang membunuh Hamzah?"Wahshi mengangguk dan menceritakan kejadian itu. Mata Rasulullah berkaca-kaca, teringat kembali pada jenazah pamannya yang dicincang di Uhud. Dengan lembut namun menyayat hati, beliau bersabda,
"Wahai Wahshi, bisakah engkau menyembunyikan wajahmu dariku?"Itu bukanlah perintah pengusiran karena benci, melainkan ungkapan kesedihan seorang manusia yang tak sanggup melihat wajah pembunuh pamannya tanpa teringat pedihnya kehilangan. Kata-kata itu menghujam jantung Wahshi lebih tajam daripada tombaknya sendiri. Sejak saat itu, Wahshi selalu berusaha menghindar dari pandangan Nabi, bersembunyi di balik tiang masjid atau duduk di barisan paling belakang, hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak berujung.
Tombak Penebusan Di Taman Kematian
Setelah Rasulullah wafat, kesedihan Wahshi semakin mendalam karena ia kehilangan kesempatan untuk melihat senyum rida dari wajah beliau. Namun, panggilan penebusan itu akhirnya datang pada masa Khalifah Abu Bakar. Muncul seorang nabi palsu yang sangat berbahaya bernama Musailamah Al-Kazzab, yang mengumpulkan ribuan pasukan dan mengancam keutuhan Islam. Wahshi tahu ini adalah momennya. Ia mengambil kembali tombak tua yang dulu ia gunakan untuk membunuh Hamzah, tombak yang selama ini ia simpan sebagai monumen dosanya. Ia bersumpah dalam hati,
"Dengan tombak ini aku telah membunuh manusia terbaik setelah Nabi, maka dengan tombak ini pula aku harus membunuh manusia terburuk di muka bumi."
Dalam Perang Yamamah yang brutal, di sebuah tempat yang kelak dikenal sebagai Taman Kematian (Garden of Death), Wahshi bertarung bukan untuk mencari harta, tapi untuk mencari kematian yang mulia atau penebusan. Di tengah kekacauan perang, ia melihat Musailamah berdiri di celah benteng. Tanpa ragu, tangan hitamnya yang kekar kembali melempar tombak itu. Sejarah berulang, tombak itu melesat dan menembus dada sang nabi palsu, mengakhiri teror kemurtadan terbesar saat itu. Wahshi tersungkur sujud, bukan karena bangga, tapi karena beban berat di pundaknya akhirnya terangkat. Ia merasa seolah-olah tombak itu telah mencuci darah Hamzah dengan darah Musailamah.
Kesimpulan
Kisah Wahshi bin Harb mengajarkan kita bahwa masa lalu sekelam apa pun tidak menutup pintu masa depan yang mulia. Ia adalah bukti hidup bahwa seorang pendosa besar bisa berubah menjadi pahlawan besar, asalkan ia memiliki tekad untuk menebus kesalahannya. Allah tidak melihat dari mana seseorang memulai hidupnya, melainkan bagaimana ia mengakhirinya.
Tombak Wahshi menjadi saksi bisu dua kutub sejarah: satu sisi berlumuran darah pahlawan Uhud, sisi lainnya berlumuran darah penipu Yamamah. Di antara kedua ujung itu, terdapat perjalanan jiwa seorang manusia yang berjuang memaafkan dirinya sendiri, mencari jalan pulang menuju rida Tuhannya dengan segala kemampuan yang ia miliki.
- Sahih Bukhari - "Kitab Peperangan (Al-Maghazi)".
- Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam - "Perang Uhud & Yamamah".
- Ar-Raheeq Al-Makhtum - "Kisah Wahshi bin Harb".
Komentar