Kisah tragis Pangeran Kidang Garungan yang dikhianati dan dikubur hidup-hidup oleh putri yang ia cintai di dataran Dieng.
Dataran tinggi Dieng selalu diselimuti kabut tebal yang dingin, seolah-olah alam sedang berusaha menyembunyikan rahasia kelam yang pernah terjadi di tanah para dewa tersebut. Di masa lalu, hiduplah seorang putri bernama Sinta Dewi yang kecantikannya termasyhur hingga ke pelosok negeri. Matanya bersinar bak bintang kejora dan kulitnya sehalus pualam, namun sayang, hatinya tak secantik parasnya. Sinta Dewi adalah wanita yang angkuh dan sangat memuja materi. Ia menolak lamaran ratusan pangeran tampan hanya karena mas kawin yang mereka bawa dianggap kurang berharga. Baginya, cinta adalah transaksi, dan suaminya haruslah pria terkaya yang sanggup menimbun istananya dengan emas permata.
Hingga suatu hari, datanglah kabar tentang seorang pangeran misterius bernama Kidang Garungan. Konon, kekayaannya tak tertandingi dan ia menyanggupi syarat gila yang diajukan Sinta Dewi: satu peti penuh emas murni. Tanpa pernah bertemu muka, Sinta Dewi yang silau akan harta langsung menerima lamaran tersebut. Ia membayangkan sosok pangeran tampan yang sempurna akan datang menjemputnya dengan kereta kencana. Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam. Ketika rombongan pengantin tiba, Sinta Dewi tersentak mundur dalam ketakutan. Sosok yang turun dari kereta kencana itu memang berbadan manusia tegap dan memakai jubah kebesaran yang mewah, namun kepalanya bukanlah kepala manusia, melainkan kepala seekor kijang. Hartanya nyata, tapi wujudnya adalah mimpi buruk.
Tipu Muslihat Sang Putri Jelita
Rasa jijik seketika menjalar ke seluruh tubuh Sinta Dewi. Ia tidak sudi bersanding dengan manusia setengah hewan, betapapun melimpahnya emas yang dibawa. Namun, janji telah terucap dan pantang bagi seorang putri untuk menjilat ludahnya sendiri di hadapan rakyat. Otak liciknya mulai berputar cepat, mencari cara untuk membatalkan pernikahan tanpa mencoreng nama baiknya. Ia tersenyum manis, senyuman palsu yang menyembunyikan belati di baliknya, dan mengajukan satu syarat tambahan yang mustahil. "Wahai Pangeran," ucapnya lembut, "Dieng sedang kekeringan. Jika engkau benar-benar mencintaiku, buatkanlah sebuah sumur raksasa dalam waktu satu malam untuk rakyatku. Airnya harus memancar sebelum fajar menyingsing."
Pangeran Kidang Garungan, yang dibutakan oleh cinta tulus, menyanggupi permintaan itu tanpa curiga. Dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya, ia mulai menggali tanah berbatu Dieng menggunakan tangan dan tanduknya yang kuat. Ia bekerja keras tanpa henti, menembus lapisan bumi yang keras demi membuktikan cintanya pada sang putri. Lubang sumur semakin dalam, dan air mulai terlihat memancar dari dasarnya. Melihat kesaktian sang pangeran, Sinta Dewi justru semakin panik. Ketakutannya akan menikahi "monster" itu mengalahkan hati nuraninya. Ia pun memerintahkan para pengawal untuk melakukan tindakan paling pengecut malam itu: menimbun sumur itu saat sang pangeran masih berada di dasarnya.
Sumpah Serapah Dari Liang Lahat
Tanah, bebatuan, dan bongkahan besar mulai dijatuhkan dari atas bibir sumur. Pangeran Kidang Garungan yang sedang berada di kedalaman terkejut bukan main. Ia mendongak, melihat wanita yang ia puja berdiri dingin di atas sana, menyaksikan pembunuhan itu. Rasa sakit karena dikhianati jauh lebih perih daripada hantaman batu yang menimpa tubuhnya. Ia meraung, berusaha naik, namun timbunan tanah semakin tinggi menguburnya hidup-hidup. Amarah dan keputusasaan bercampur menjadi energi panas yang dahsyat. Tubuhnya meledak dalam kemarahan, menciptakan guncangan hebat yang membuat tanah di sekitarnya mendidih.
Sebelum nafas terakhirnya hilang ditelan bumi, Pangeran Kidang Garungan meneriakkan sebuah kutukan yang menggema membelah langit malam Dieng. Ia bersumpah bahwa keturunan Sinta Dewi dan penduduk Dieng akan menanggung tanda dari pengkhianatan ini. "Kelak, anak cucumu akan berambut gembel (gimbal)!" teriaknya pilu. Suara itu perlahan hilang, digantikan oleh suara gemuruh tanah yang menutup rapat liang lahat raksasa tersebut, menyegel sang pangeran dan cintanya yang tulus di dalam perut bumi selamanya.
Kesimpulan
Kini, sumur maut itu dikenal sebagai Kawah Sikidang. Airnya yang selalu mendidih dan meletup-letup dipercaya sebagai wujud amarah Pangeran Kidang Garungan yang tak pernah padam. Dan benar saja, kutukan sang pangeran terbukti nyata. Hingga hari ini, di dataran tinggi Dieng, selalu lahir anak-anak berambut gimbal (anak bajang) yang dipercaya sebagai titipan supranatural.
Kisah ini menjadi pengingat abadi bahwa kecantikan fisik tidak ada artinya jika hati dipenuhi kekejaman. Sinta Dewi mungkin menang malam itu, tapi ia mewariskan sejarah kelam yang tak bisa dihapus oleh waktu, tentang seorang pangeran berwajah hewan yang memiliki hati manusia, yang dibunuh oleh putri berwajah manusia namun berhati hewan.
- Gromore Studio Series - "Legenda Kawah Sikidang".
- Dinas Pariwisata Banjarnegara - "Sejarah dan Mitos Anak Rambut Gimbal".
- Kisah Tanah Jawa - "Misteri Dataran Tinggi Dieng".
Komentar