Kisah mengerikan di Strasbourg saat ratusan warga terjebak dalam tarian abadi hingga tewas karena kelelahan.
Matahari bulan Juli tahun 1518 terasa membakar kulit penduduk Strasbourg lebih ganas dari biasanya. Di gang-gang sempit yang berbau busuk dan kemiskinan, hawa panas bercampur dengan keputusasaan wajah-wajah kelaparan. Tidak ada yang menduga bahwa di tengah terik siang yang menyengat itu, sebuah pintu rumah kayu reyot perlahan terbuka, menandai awal dari salah satu tragedi paling surreal dalam sejarah manusia. Frau Troffea, seorang wanita paruh baya dengan wajah tirus dan mata cekung, melangkah keluar ke jalanan berbatu. Tatapannya kosong, menembus keramaian pasar tanpa melihat siapa pun. Tiba-tiba, tanpa ada musik yang terdengar, tubuhnya mulai bergerak. Kakinya menghentak, tangannya melambai kaku, dan pinggulnya berputar dalam ritme yang aneh dan menyentak. Tetangga yang melihatnya mengira ia sedang mabuk atau kerasukan setan, namun tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa itu adalah langkah pertama menuju neraka yang akan menelan kota mereka.
Suami Frau Troffea berteriak memanggilnya, memohon agar ia berhenti mempermalukan diri sendiri dan kembali masuk ke rumah. Namun, telinga wanita itu seolah tuli. Ia terus menari, berputar, dan melompat di bawah sengatan matahari. Keringat mulai bercucuran deras membasahi gaun kumalnya, nafasnya terdengar memburu seperti kuda pacuan yang kelelahan, namun kakinya menolak untuk berhenti. Satu jam berlalu, kemudian dua jam, hingga malam turun menyelimuti kota, Frau Troffea masih di sana, menari dalam kebisuan yang mencekam. Ia baru ambruk ketika tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga, pingsan di atas batu jalanan yang dingin. Namun, mimpi buruk itu belum berakhir. Begitu matanya terbuka di pagi hari, tubuhnya langsung tersentak bangun dan kembali menari, seolah ada dalang tak kasat mata yang menarik benang-benang di persendian tulangnya.
Wabah Gila Menular Sangat Cepat
Kabar tentang wanita yang menari tanpa henti itu menyebar lebih cepat daripada angin musim panas. Dalam beberapa hari, apa yang awalnya dianggap sebagai kegilaan satu orang berubah menjadi teror kolektif. Satu per satu, warga lain mulai merasakan dorongan yang sama. Seorang pria tukang roti tiba-tiba melempar adonannya dan lari ke jalan untuk bergabung. Seorang ibu muda meninggalkan bayinya menangis untuk ikut dalam lingkaran setan itu. Dalam waktu seminggu, lebih dari tiga puluh orang telah bergabung dengan Frau Troffea. Mereka membentuk kerumunan manusia yang bergerak liar, saling bertabrakan, dengan wajah yang tidak menyiratkan kebahagiaan pesta, melainkan penderitaan murni.
Pemandangan di alun-alun kota berubah menjadi sangat mengerikan. Tidak ada tawa atau nyanyian gembira di sana. Yang terdengar hanyalah suara tapak kaki yang menghantam tanah, nafas yang tersengal-sengal, dan erangan kesakitan. Sepatu kulit tipis yang mereka kenakan mulai hancur tergerus gesekan batu. Tak lama kemudian, darah segar mulai mengalir dari telapak kaki mereka, meninggalkan jejak merah yang mengerikan di setiap langkah tarian mereka. Tulang pergelangan kaki mereka membengkak, bahkan ada yang patah, namun rasa sakit itu seolah tidak mampu menembus trans yang menguasai otak mereka. Mereka adalah tawanan di dalam tubuh mereka sendiri, dipaksa menari oleh kekuatan misterius hingga nyawa menjadi taruhannya.
Musik Pengiring Menuju Liang Kubur
Kepanikan melanda para pejabat kota dan bangsawan Strasbourg. Melihat ratusan warganya kini memenuhi pasar dengan tarian mengerikan itu, mereka mencari nasihat dari tabib dan ahli agama. Diagnosa yang keluar sungguh fatal: mereka dianggap menderita "darah panas" dan obatnya adalah membiarkan mereka menari terus sampai lelah. "Biarkan mereka menuntaskan tariannya!" seru para penguasa. Maka dibangunlah panggung kayu besar di tengah pasar, dan disewalah pemusik profesional untuk mengiringi tarian maut tersebut. Bunyi seruling dan tabuhan drum mulai bergema, sebuah keputusan bodoh yang justru menjadi lonceng kematian bagi para korban.
Musik itu tidak menyembuhkan mereka; sebaliknya, irama drum justru memacu jantung mereka untuk berdetak lebih cepat dan kaki mereka bergerak lebih gila. Panggung kayu itu bergetar hebat di bawah hentakan ratusan kaki yang sudah hancur. Satu per satu, tubuh-tubuh yang kelelahan itu mulai menyerah. Seorang pria tua ambruk sambil memegang dadanya, jantungnya meledak karena tak kuat memompa darah. Seorang wanita muda jatuh dengan mulut berbusa, terserang stroke di tengah putaran tariannya. Namun, musik terus bermain, dan mereka yang masih berdiri terus menari di sela-sela mayat teman dan tetangga mereka yang mulai membusuk di bawah terik matahari. Pesta dansa itu telah berubah menjadi ladang pembantaian massal.
Kesimpulan
Ketika musim panas berakhir dan hawa dingin mulai menyapa, tarian itu akhirnya berhenti, menyisakan keheningan yang memilukan di kota Strasbourg. Ratusan nyawa telah melayang sia-sia, menjadi korban dari histeria yang tak terjelaskan. Jalanan yang tadinya penuh sesak oleh gerakan liar kini kembali sepi, hanya menyisakan noda darah kering yang sulit hilang dari bebatuan jalan.
Kisah Frau Troffea dan para penari Strasbourg menjadi legenda kelam yang dituturkan dari mulut ke mulut. Ia mengajarkan kepada generasi berikutnya bahwa batas antara kewarasan dan kegilaan sangatlah tipis. Di saat tekanan hidup begitu berat menghimpit jiwa, pikiran manusia bisa retak dan menciptakan nerakanya sendiri, sebuah tarian tanpa akhir di mana musiknya hanya bisa didengar oleh mereka yang jiwanya telah patah.
- History.com - "The Dancing Plague of 1518".
- The Lancet - "Mass Psychogenic Illness in History".
- John Waller - "A Time to Dance, A Time to Die".
Komentar