Sang Ayah memberinya tugas aneh. Namun saat tugas selesai, sang anak justru menyadari satu kesalahan fatal yang tak bisa diperbaiki selamanya.
Di halaman belakang sebuah rumah tua, berdiri pagar kayu yang tampak biasa saja. Namun, jika kamu melihat lebih dekat, pagar itu menyimpan ratusan bekas luka—jejak sejarah dari seorang pemuda yang sedang belajar menaklukkan musuh terbesarnya: dirinya sendiri.
Semua bermula ketika sang Ayah menyerahkan sebuah palu dan sekantong paku besi. Tugas yang diberikannya terdengar sederhana, namun akhirnya menjadi pelajaran paling menyakitkan yang pernah diterima sang anak.
Anak Lelaki yang Pemarah
| Gambar 1. Ilustrasi Anak Laki-Laki Pemarah |
Alkisah, ada seorang anak lelaki yang memiliki sifat sangat temperamental. Ia mudah sekali marah. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai keinginannya, emosinya langsung meledak dan kata-kata kasar keluar dari mulutnya.
Sang Ayah yang bijaksana merasa khawatir dengan tabiat putranya itu. Suatu hari, ia memanggil sang anak dan memberinya sekantong paku serta sebuah palu.
"Nak," kata sang Ayah,
Setiap kali kamu kehilangan kesabaran atau marah kepada seseorang, Ayah minta kamu memaku satu buah paku di pagar kayu belakang rumah kita.
Hutan Paku di Pagar Kayu
Hari pertama terasa berat. Anak itu memaku pagar sebanyak 37 kali. Setiap kali amarahnya meluap, ia berlari ke belakang dan menghantamkan palu ke kayu dengan kesal.
Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah paku yang ditancapkan mulai berkurang. Anak itu mulai menyadari bahwa menahan amarah ternyata lebih mudah daripada harus bersusah payah memaku pagar kayu yang keras itu.
Minggu berganti bulan, hingga akhirnya tibalah satu hari di mana anak itu sama sekali tidak marah. Ia merasa bangga dan segera melapor kepada Ayahnya.
"Bagus sekali, Nak," puji sang Ayah.
Sekarang tugasmu berubah. Setiap hari di mana kamu berhasil menahan amarahmu sepanjang hari, cabutlah satu paku yang dulu pernah kamu tancapkan.
Lubang yang Tak Bisa Hilang
| Gambar 2. Ilustrasi Pagar Kayu yang Berlubang |
Waktu terus berlalu. Akhirnya, hari yang dinanti tiba. Semua paku di pagar kayu itu telah berhasil dicabut. Tidak ada lagi besi yang menancap di sana.
Dengan gembira, anak itu menuntun Ayahnya ke halaman belakang. "Lihat Yah, pakunya sudah habis! Aku sudah berhasil!"
Sang Ayah tersenyum, namun matanya menatap tajam ke arah pagar. Ia memegang tangan putranya dan menunjuk ke permukaan kayu yang kini tak mulus lagi.
Kamu telah berhasil dengan baik, Nak. Tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa kembali sama seperti dulu.
Pesan Sang Ayah
| Gambar 3. Ilustrasi Ayah dan Anak Menikmati Pemandangan Sore Hari |
Sang Ayah melanjutkan nasihatnya dengan suara lembut namun tegas:
Saat kamu marah dan melontarkan kata-kata menyakitkan kepada orang lain, kata-katamu itu meninggalkan bekas luka, persis seperti lubang paku ini.
Kamu bisa saja menusukkan pisau ke tubuh seseorang, lalu mencabutnya dan berkata 'maaf' ribuan kali. Tapi, bekas lukanya akan tetap ada di sana. Luka karena lisan seringkali sama sakitnya, bahkan lebih membekas, daripada luka fisik.Anak itu terdiam. Ia memandangi lubang-lubang hitam di pagar kayu itu. Ia baru menyadari betapa banyak "lubang" yang telah ia buat di hati orang-orang yang menyayanginya.
Hikmah Cerita
Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua.
- Lisan Lebih Tajam dari Pedang: Luka fisik bisa sembuh dalam hitungan hari, tapi sakit hati akibat ucapan kasar bisa teringat seumur hidup.
- Maaf Bukan Penghapus: Permintaan maaf memang kewajiban, namun ia tidak serta merta mengembalikan kepercayaan dan perasaan orang lain menjadi utuh kembali seperti sedia kala.
- Kendalikan Diri: Sebelum amarah meledak, ingatlah "pagar kayu" itu. Apakah kita tega menambah lubang baru di hati orang terdekat kita?
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Komentar