Sejarah jatuhnya Konstantinopel 1453 oleh Sultan Mehmed II. Kisah tentang meriam raksasa dan strategi kapal berlayar di atas bukit.
Selama lebih dari seribu tahun, Konstantinopel berdiri sebagai permata dunia. Kota ini dilindungi oleh Tembok Theodosius yang berlapis tiga, benteng pertahanan terkuat yang pernah diciptakan manusia pada zamannya. Banyak kekaisaran mencoba meruntuhkannya, namun semuanya pulang dengan kegagalan.
Hingga tibalah tahun 1453. Seorang sultan muda berusia 21 tahun dari Kesultanan Utsmaniyah, Sultan Mehmed II (Muhammad Al-Fatih), datang dengan tekad baja untuk membuktikan sabda nabi dan mengubah peta dunia selamanya.
Inilah kisah tentang runtuhnya benteng yang dianggap mustahil ditembus.
Benteng Tak Tertembus dan Rantai Raksasa
Konstantinopel (kini Istanbul) memiliki pertahanan alami yang sempurna. Di satu sisi dikelilingi laut, di sisi lain dilindungi tembok tebal.
Untuk mencegah serangan dari laut, Bizantium memasang Rantai Raksasa yang membentang menutupi Teluk Golden Horn (Tanduk Emas). Rantai besi ini membuat kapal musuh mustahil bisa mendekat ke dinding kota yang paling lemah.
Kaisar Bizantium terakhir, Konstantin XI Palaiologos, yakin bahwa kotanya aman. Namun, ia tidak menyadari bahwa lawannya kali ini bukanlah panglima perang biasa.
Meriam Raksasa "Orban"
Sultan Mehmed II sadar bahwa tembok Theodosius tak bisa dihancurkan dengan alat pelempar batu biasa. Ia pun menyewa seorang insinyur Hungaria bernama Orban untuk menciptakan senjata pamungkas.
Lahirlah "Meriam Basilica" atau Meriam Orban. Ukurannya mengerikan: panjangnya 8 meter dan mampu melontarkan bola batu seberat 600 kg sejauh 1,6 kilometer. Dentuman meriam ini konon terdengar hingga radius puluhan kilometer, meruntuhkan moral penduduk kota sebelum pelurunya menyentuh dinding.
Strategi Gila: Kapal Berlayar di Atas Bukit
| Gambar 1. Ilustrasi Kapal Ditarik Manusia |
Meski dinding darat mulai gempur, serangan laut Utsmaniyah macet total karena Rantai Raksasa di Golden Horn. Pasukan Bizantium bersorak melihat kapal-kapal Utsmaniyah tak berdaya.
Di sinilah kecjeniusan Mehmed II bersinar. Jika kapal tak bisa lewat laut, maka kapal akan lewat darat.
Dalam satu malam yang gelap dan senyap, Mehmed memerintahkan ribuan pasukannya untuk memotong pohon, melumuri batang kayu dengan lemak hewan, dan menarik 70 kapal perang mendaki bukit Galata yang terjal untuk memutari rantai tersebut.
Keesokan paginya, warga Konstantinopel terbangun dengan horor. Mereka melihat kapal-kapal Utsmaniyah sudah berada di dalam teluk Golden Horn, siap menyerang dinding kota dari jarak dekat. Strategi "kapal berlayar di atas bukit" ini mematahkan semangat juang Bizantium.
29 Mei 1453: Runtuhnya Romawi Timur
| Gambar 2. Ilustrasi Sultan Mehmed II |
Setelah pengepungan selama 53 hari, serangan terakhir diluncurkan. Gelombang pasukan Yanisari (pasukan elit) menyerbu celah dinding yang hancur.
Kaisar Konstantin XI, menyadari kotanya telah jatuh, melepas jubah ungunya dan terjun ke medan perang layaknya prajurit biasa. Ia gugur dalam pertempuran, dan jasadnya tak pernah ditemukan secara pasti.
Sultan Mehmed II memasuki kota dengan penuh wibawa. Ia langsung menuju Hagia Sophia, gereja megah itu, dan bersujud syukur. Sejak hari itu, Konstantinopel berganti nama menjadi Islambol (sekarang Istanbul), dan Mehmed II mendapat gelar Al-Fatih (Sang Penakluk).
Kesimpulan: Akhir Abad Pertengahan
Jatuhnya Konstantinopel bukan sekadar pergantian kekuasaan. Ini menandai:
- Berakhirnya Abad Pertengahan (Middle Ages) di Eropa.
- Kematian Kekaisaran Romawi yang telah berdiri sejak zaman kuno.
- Lahirnya Renaisans, karena banyak cendekiawan Bizantium lari ke Italia membawa ilmu pengetahuan kuno.
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Referensi
- Roger Crowley - 1453: The Holy War for Constantinople
- Steven Runciman - The Fall of Constantinople 1465
Komentar