Kisah kelam di balik berdirinya Singasari. Tentang keris Mpu Gandring yang membawa kutukan kematian bagi tujuh turunan penguasa Jawa.
Sejarah Singasari tidak dibangun di atas diplomasi yang damai, melainkan di atas genangan darah dan ambisi liar seorang pria bernama Ken Arok.
Namun, di balik kegemilangan wangsa Rajasa yang menguasai tanah Jawa, tersimpan kisah kelam tentang sebuah benda pusaka yang belum selesai dibuat. Sebuah keris sakti yang membawa kutukan mengerikan bagi siapa pun yang memegangnya.
Inilah kisah tentang ambisi yang harus dibayar mahal dengan nyawa tujuh keturunan.
Pesanan yang Tak Sabar
Kisah bermula ketika Ken Arok, seorang pengawal akuwu (bupati) Tumapel, berambisi merebut kekuasaan dan memperistri Ken Dedes, wanita yang diramalkan akan melahirkan raja-raja besar Jawa.
| Gambar 1. Ilustrasi Pandai Besi |
Untuk memuluskan rencana kudetanya, ia memesan sebuah keris sakti kepada pandai besi legendaris, Mpu Gandring. Sang Mpu menyanggupi, namun ia meminta waktu satu tahun penuh untuk menyempurnakan ritual gaib dan tempaan besinya agar keris tersebut sempurna secara fisik dan spiritual.
Sumpah Sang Mpu
Lima bulan berlalu, Ken Arok yang tak sabar datang menagih. Melihat keris itu belum dipoles sempurna (masih kasar bentuknya), Ken Arok murka. Ia merasa dipermainkan. Dalam kemarahannya yang meledak, ia merebut keris setengah jadi itu dan menusukkannya ke dada pembuatnya sendiri.
| Gambar 2. Ilustrasi Pertikaian Dua Orang |
Dalam sekaratnya, Mpu Gandring tidak memohon ampun. Ia justru mengeluarkan sumpah yang menggetarkan langit:
" Arok, kamu akan mati oleh keris ini. Anak cucumu akan mati oleh keris ini. Tujuh turunanmu akan tewas oleh keris ini!
Tumbal Pertama hingga Terakhir
Ken Arok yang mabuk kekuasaan tidak mempedulikan kutukan itu. Namun, waktu membuktikan bahwa ucapan orang terzalimi sangatlah tajam. Keris itu berpindah tangan dalam lingkaran dendam keluarga kerajaan:
| Gambar 3. Ilustrasi Kerajaan Singasari |
- Tunggul Ametung mati ditusuk Ken Arok (menggunakan tangan temannya, Kebo Ijo, sebagai kambing hitam).
- Kebo Ijo mati ditusuk Ken Arok (karena dituduh sebagai pembunuh).
- Ken Arok sendiri akhirnya tewas ditusuk oleh anak tirinya, Anusapati, menggunakan keris yang sama saat sedang makan malam. Darah terus menetes hingga ke keturunan berikutnya, membuktikan kutukan itu tidak meleset.
Akhir Sang Pusaka
Sadar akan bahaya keris tersebut yang terus meminta tumbal nyawa raja-raja, konon salah satu penguasa Singasari (ada yang menyebut Raja Wisnuwardhana) akhirnya memutuskan untuk memusnahkannya.
| Gambar 4. Ilustrasi Kawah Gunung Berapi |
Keris Mpu Gandring dipercaya dibuang ke dalam kawah Gunung Kelud (atau ke tengah Laut Jawa) agar tidak ada lagi manusia yang bisa menggunakannya. Hingga kini, keberadaan fisiknya hilang ditelan bumi, namun kisahnya abadi sebagai peringatan.
Kesimpulan
Kisah Ken Arok dan Mpu Gandring mengajarkan kita sebuah hikmah mahal: Ambisi kekuasaan yang diraih dengan cara kotor dan pengkhianatan tidak akan pernah membawa ketenangan. Darah mungkin bisa membeli takhta, namun ia tak akan pernah bisa membeli kedamaian.
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Referensi
- Kitab Pararaton
- Sejarah Nasional Indonesia
Komentar