Mengenal Nuaiman bin Amr, sahabat Nabi veteran Perang Badar yang jenaka. Kisahnya membuktikan bahwa Islam penuh dengan kasih sayang dan keceriaan.
Dalam sejarah emas Islam, para Sahabat Nabi dikenal dengan kesungguhan ibadah dan keteguhan iman mereka. Namun, di antara wajah-wajah khusyuk itu, terdapat satu sosok istimewa yang kehadirannya selalu membawa keceriaan. Ia adalah Nuaiman bin Amr al-Ansari.
Nuaiman bukanlah orang sembarangan. Ia adalah seorang veteran Perang Badar, pejuang yang gagah berani. Namun, di balik keberaniannya, Allah menganugerahinya sifat jenaka yang alami. Ia adalah satu-satunya sahabat yang mampu membuat Rasulullah SAW tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau di tengah beratnya amanah dakwah.
Berikut adalah kisah gurauan Nuaiman yang melegenda namun sarat makna kasih sayang.
Gurauan di Tanah Syam
| Gambar 1. Ilustrasi Perdagang |
Kisah ini terjadi setahun sebelum wafatnya Rasulullah SAW. Kala itu, Nuaiman ikut serta dalam kafilah dagang ke negeri Syam bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sahabat lainnya, Suwaibith bin Harmalah.
Suwaibith, yang bertugas menjaga perbekalan makanan, adalah sosok yang sangat amanah dan kaku. Suatu ketika, Nuaiman merasa lapar dan meminta sepotong roti. Namun, Suwaibith menolak tegas karena belum mendapat izin dari Abu Bakar yang sedang pergi.
Nuaiman pun tersenyum simpul dan berkata,
"Jika engkau tidak memberiku makan, aku akan membuat ulah kepadamu."
Benar saja, Nuaiman pergi ke pasar dan menemui para pedagang budak. Ia berseru,
"Aku memiliki seorang hamba sahaya yang kuat dan rajin. Namun, ia memiliki satu cacat, yaitu lisannya tak bisa dijaga. Jika kalian menangkapnya, ia pasti akan berteriak mengaku sebagai orang merdeka. Apakah kalian berminat?"
Para pedagang setuju dan membelinya dengan harga 10 ekor unta. Nuaiman pun menunjuk ke arah Suwaibith yang sedang duduk menjaga makanan. Tanpa ampun, para pedagang itu menyergap Suwaibith. "Lepaskan! Aku bukan budak, aku orang merdeka!" teriak Suwaibith. Para pedagang hanya tertawa, "Iya, kami sudah tahu kau akan berkata begitu," lalu mengikatnya.
Beruntung, Abu Bakar segera kembali dan menebus Suwaibith dari para pedagang itu. Ketika kisah ini sampai ke telinga Rasulullah SAW, beliau tertawa begitu lepas hingga terlihat gigi gerahamnya. Bahkan, setahun setelahnya, beliau masih sering menceritakan kejadian jenaka ini kepada para tamu yang berkunjung.
Hadiah Madu untuk Sang Nabi
| Gambar 2. Ilustrasi Roti dan Madu |
Kecintaan Nuaiman kepada Rasulullah sangatlah besar, namun caranya mengungkapkannya sungguh unik. Suatu hari, ia melihat seorang pedagang madu (riwayat lain menyebut samin) yang menjajakan dagangan lezat.
Nuaiman segera membawa pedagang itu ke kediaman Nabi dan menyerahkan madu tersebut. "Wahai Rasulullah, ini hadiah dariku untuk Engkau nikmati," ucapnya tulus.
Rasulullah menerimanya dengan senang hati dan membagikannya kepada keluarga. Namun, setelah pedagang itu hendak pergi, Nuaiman menahannya dan membawanya kembali menghadap Nabi.
"Wahai Rasulullah, tolong lunasi harga madu ini kepada penjualnya," ujar Nuaiman dengan wajah polos.
Rasulullah terkejut namun tersenyum, "Bukankah engkau memberikannya sebagai hadiah?"
Nuaiman menjawab jujur, "Benar, ya Rasulullah. Aku ingin sekali Engkau memakan makanan lezat itu, namun kantongku sedang kosong."
Mendengar kejujuran yang menggelitik itu, Rasulullah pun tersenyum dan melunasi harga madu tersebut. Beliau memahami bahwa itu adalah bentuk cinta Nuaiman yang ingin memberikan yang terbaik bagi Nabinya, meski dalam keterbatasan.
Kedudukan Nuaiman di Mata Rasulullah
| Gambar 3. Ilustrasi Kaligrafi |
Meski tingkah lakunya sering memancing tawa dan terkadang merepotkan, Nuaiman memiliki tempat khusus di hati Nabi. Pernah suatu ketika, seorang sahabat mencela Nuaiman karena kekhilafannya.
Mendengar itu, Rasulullah SAW langsung menegur dengan tegas:
"Janganlah engkau melaknatnya. Demi Allah, yang aku tahu, ia sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya."
Kisah Nuaiman mengajarkan kita bahwa Islam adalah agama yang fitrah. Ia tidak menghilangkan karakter asli manusia. Kesalehan tidak harus diwujudkan dengan wajah masam dan kaku. Nuaiman bin Amr masuk ke dalam surga Allah dengan membawa senyum dan kebahagiaan di wajah Kekasih-Nya.
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Referensi
- Ibnu Majah & Ad-Daraquthni (Kitab Riwayat)
- Rijal Haula Ar-Rasul (Khalid Muhammad Khalid)
Komentar