Sejarah asal usul nama Kota Pekalongan dari legenda Raden Bahurekso (Joko Bau) yang melakukan ritual Tapa Ngalong.
Siapa yang tidak kenal Pekalongan? Kota di pesisir utara Jawa Tengah ini tersohor ke penjuru dunia sebagai Kota Batik. Namun, tahukah kamu sejarah di balik nama "Pekalongan"?
Ternyata, nama ini lahir dari sebuah aksi nekat seorang ksatria bernama Raden Bahurekso (Joko Bau) yang harus melakukan ritual aneh demi membuka hutan angker: tidur menggantung terbalik layaknya kelelawar (Kalong).
Mari kita simak kisah perjuangan leluhur Pekalongan yang penuh mistis dan heroik ini.
Bencana Kekeringan dan Titah Sultan Agung
Alkisah, Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo sedang dilanda kemarau panjang. Rakyat kelaparan karena sawah-sawah mengering.
Sultan Agung pun memerintahkan Patih Sindorejo untuk pergi ke wilayah Batang dan membendung Sungai Sambong yang airnya tak pernah surut. Namun, tugas mulia ini ternyata tidak mudah. Setiap kali prajurit membangun bendungan di siang hari, malamnya bangunan itu hancur lebur tanpa sisa.
Ternyata, itu adalah ulah Raja Siluman Belut Putih dan pasukannya yang tidak terima wilayahnya diganggu. Patih Sindorejo dan pasukannya pun kalah telak dan terpaksa mundur kembali ke Mataram.
Munculnya Raden Bahurekso
Mendengar kegagalan itu, Sultan Agung mengadakan sayembara. Kabar ini sampai ke telinga Raden Bahurekso (Joko Bau), putra dari Ki Ageng Cempaluk yang tinggal di Desa Kasesi (pengasingan).
Dengan restu ayahnya, Bahurekso maju menghadapi tantangan itu. Berbeda dengan Patih Sindorejo yang langsung menyerang, Bahurekso melakukan tapa brata (meditasi) terlebih dahulu untuk berkomunikasi. Namun, karena Siluman Belut Putih tetap keras kepala dan sombong, pertempuran dahsyat pun tak terelakkan.
Dengan kesaktian warisan ayahnya, Raden Bahurekso akhirnya berhasil mengalahkan Siluman Belut Putih. Bendungan pun berhasil dibangun, dan air kembali mengalir ke sawah-sawah rakyat Mataram.
Hutan Gambiran yang Mematikan
| Gambar 1. Ilustrasi Hutan Angker |
Keberhasilan Bahurekso membuat Sultan Agung kagum. Ia pun diberi tugas terakhir yang jauh lebih berat yaitu membuka Hutan Gambiran di pesisir utara untuk dijadikan pemukiman baru.
Hutan Gambiran dikenal sebagai hutan paling angker di Tanah Jawa. Siapapun yang masuk, tidak akan pernah kembali. Benar saja, saat Bahurekso masuk, ia langsung diserang berbagai keanehan:
- Tersesat Tanpa Henti: Sejauh apapun berjalan, ia selalu kembali ke titik awal.
- Serangan Alam: Hujan air panas yang melepuhkan kulit dan banjir bandang tiba-tiba menerjang.
- Ilmu Tak Mempan: Bahkan ajian "Tapak Kidang" (ilmu meringankan tubuh) miliknya tak mampu menembus pagar gaib hutan itu.
Ritual Tapa Ngalong
| Gambar 2. Ilustrasi Tapa Ngalong |
Ki Ageng Cempaluk memberikan nasihat kunci:
"Kekuatan bukan hanya pada fisik, tapi pada penyatuan raga dan rasa."Ia memerintahkan anaknya untuk melakukan Tapa Ngalong: bertapa dengan posisi tubuh menggantung terbalik di dahan pohon seperti Kalong (kelelawar), kaki di atas dan kepala di bawah, selama 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum.
Bahurekso mematuhi perintah itu. Dalam keheningan hutan dan posisi menyiksa itu, ia memusatkan seluruh batinnya kepada Tuhan.
Tepat pada hari ke-40, kekuatan dahsyat bangkit dalam dirinya. Sosok penguasa hutan Gambiran yang jahat akhirnya muncul dan berhasil dikalahkan. Hutan angker itu pun terbuka, menjadi lahan yang subur dan aman untuk ditinggali manusia.
Asal Nama Pekalongan
Wilayah hutan yang berhasil dibuka itu kemudian berkembang menjadi pemukiman yang ramai. Untuk mengenang peristiwa bersejarah di mana Raden Bahurekso bertapa menyerupai Kalong, tempat itu dinamakan Pekalongan.
- Dari kata Top-o Ngalong (Bertapa seperti Kalong).
- Menjadi Pekalongan.
Pesan Moral
- Totalitas dalam Berjuang: Raden Bahurekso mengajarkan bahwa untuk mencapai tujuan besar (membuka hutan), kadang dibutuhkan pengorbanan yang ekstrem (Tapa Ngalong). Usaha setengah-setengah tidak akan membuahkan hasil.
- Hormat pada Orang Tua: Kunci kemenangan Bahurekso bukan hanya ototnya, tapi kepatuhannya mendengar nasihat ayahnya (Ki Ageng Cempaluk). Restu orang tua adalah senjata paling ampuh.
Credit :
Penulis : Titis
Gambar dari Generate AI
Referensi
- Gromore Studio Series - Asal Usul Pekalongan
Komentar