Pertaruhan Nasib Lewat Lembar Biru Di Stasiun Senen

BAGIKAN:

Kisah pergolakan batin seorang perantau saat harus memilih antara membeli makan atau bersedekah dengan uang terakhirnya.

Kondisi Dompet Setelah di PHK

Hujan deras mengguyur atap seng Stasiun Pasar Senen malam itu, seirama dengan gemuruh di dadaku. Di tanganku, aku meremas selembar tiket kereta ekonomi tujuan Jawa Tengah dan dompet kulit yang sudah tipis. Isinya tinggal satu lembar uang biru lima puluh ribuan. Itu adalah harta karunku yang tersisa setelah perusahaan tempatku bekerja gulung tikar seminggu lalu. Tidak ada pesangon, tidak ada tabungan, hanya rasa malu karena harus pulang kampung sebagai "orang kalah".

Rencananya, uang itu akan kupakai untuk membeli nasi bungkus dan botol air minum selama perjalanan 8 jam di kereta nanti, sisanya untuk pegangan naik ojek sesampainya di desa. Logika kemiskinan berkata: "Simpan erat-erat, kamu butuh makan." Tapi entah kenapa, saat mendengar azan Isya berkumandang dari musala kecil di sudut stasiun, kakiku melangkah ke sana. Bukan hanya untuk bersujud, tapi untuk mencari jawaban atas kebuntuan hidup ini.

Pergulatan Batin Di Depan Kotak Kayu

Selesai salat, mataku tertuju pada sebuah kotak amal kayu yang gemboknya sedikit berkarat. Di atasnya tertulis "Infaq Anak Yatim". Hatiku berdegup kencang. Setan di kepalaku berbisik, "Jangan gila, kalau kamu masukkan uang itu, kamu akan kelaparan di jalan." Tapi hati kecilku berteriak lebih keras,

"Kamu sudah mencoba mengatur hidupmu sendiri dan gagal. Sekarang, coba biarkan Tuhan yang mengaturnya."
Uang Terakhir yang Ku Sedekahkan
Gambar 1. Ilustrasi Uang Terakhir yang Ku Sedekahkan

Dengan tangan gemetar dan napas tertahan, aku mengambil lembar lima puluh ribu terakhir itu. Aku menatapnya sekilas, mengucapkan selamat tinggal pada jaminan rasa kenyangku. Bismillah. Aku memasukkannya ke celah kotak. Plung. Uang itu hilang ditelan kegelapan kotak kayu. Seketika itu juga, dompetku kosong melompong. Anehnya, bukannya panik, dada ini justru terasa lapang luar biasa. Beban berat di pundak seolah ikut masuk ke dalam kotak itu. Aku pasrah. Total.

"Ya Tuhan, aku titip sisa hidupku pada-Mu,"
bisikku lirih.

Dering Telepon Pukul Sembilan

Aku duduk di bangku tunggu peron yang dingin, perut mulai berbunyi minta diisi, tapi aku hanya meminum air keran dari botol bekas yang kusiapkan. Tepat sepuluh menit sebelum kereta datang, ponsel bututku bergetar. Sebuah nomor tak dikenal. Biasanya aku abaikan, tapi malam itu aku angkat.

"Halo? Apa benar ini dengan Mas Raka?"
suara berat menyapa di ujung sana. Ternyata itu Pak Hendra, mantan klienku tiga tahun lalu yang sudah lama hilang kontak. Ponsel Berdering
Gambar 2. Ilustrasi Ponsel Berdering

"Mas, saya cari-cari kontak Mas susah sekali. Saya baru buka cabang kantor di Semarang, butuh manajer operasional yang bisa dipercaya secepatnya. Saya ingat kinerja Mas dulu bagus. Mas posisi di mana? Bisa kita ketemu besok pagi?"
tanyanya tanpa basa-basi. Air mataku menetes tanpa bisa ditahan. Di tengah peron yang ramai, aku menangis sesenggukan seperti anak kecil. Bukan karena tawaran gajinya, tapi karena jawaban Tuhan yang begitu instan dan "kontan". Uang lima puluh ribu yang kulepas ternyata adalah kunci pembuka pintu rezeki yang macet itu.

Kesimpulan

Malam itu, aku naik kereta dengan perut lapar, tapi hatiku kenyang oleh harapan. Aku belajar satu hal: matematika Tuhan tidak sama dengan matematika manusia. Bagi manusia, 1 dikurang 1 sama dengan 0. Tapi bagi Tuhan, 1 yang diberikan dengan keikhlasan total di saat sulit, bisa menjadi tak terhingga.

Jika hari ini kamu merasa berada di titik terendah dan tidak punya apa-apa lagi untuk diandalkan, cobalah memberi. Bukan karena kamu punya banyak, tapi karena kamu percaya bahwa Yang Maha Memberi tidak pernah tidur.


Credit Penulis : Titis Wicaksono Gambar Ilustrasi : Generate AI Referensi :
  • HR. Muslim - "Keutamaan Sedekah".
  • Buku "The Power of Giving" - Azim Jamal.

Komentar

Nama

cerita hikmah,5,cerita nusantara,26,cerita para nabi,21,cerita rakyat,26,cerita sahabat,14,cerita sejarah dunia,20,kisah pembaca,10,
ltr
item
Al Kisah Media: Pertaruhan Nasib Lewat Lembar Biru Di Stasiun Senen
Pertaruhan Nasib Lewat Lembar Biru Di Stasiun Senen
Kisah pergolakan batin seorang perantau saat harus memilih antara membeli makan atau bersedekah dengan uang terakhirnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBTKctywj3dvnpzaHI4GR-IiUJWJ1fi22xwUsAbMKl-3z3I6be9rLUP0Q00sngYeMl5H-vpAZzxwaXLFMOeUHFkKTEWFR_1Ovm6tEAVMNyNWrX52hQxm4OtXlAJ0Wof1IG88ukYHmPLI7xdQK4lGiW-QwoXnAbEJCiWdWE65fMZ03iMAUcjRCD_SXcEXk/s1600/kondisi-dompet-aku.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBTKctywj3dvnpzaHI4GR-IiUJWJ1fi22xwUsAbMKl-3z3I6be9rLUP0Q00sngYeMl5H-vpAZzxwaXLFMOeUHFkKTEWFR_1Ovm6tEAVMNyNWrX52hQxm4OtXlAJ0Wof1IG88ukYHmPLI7xdQK4lGiW-QwoXnAbEJCiWdWE65fMZ03iMAUcjRCD_SXcEXk/s72-c/kondisi-dompet-aku.jpg
Al Kisah Media
https://www.alkisah.my.id/2026/02/pertaruhan-nasib-lewat-lembar-biru-di.html
https://www.alkisah.my.id/
https://www.alkisah.my.id/
https://www.alkisah.my.id/2026/02/pertaruhan-nasib-lewat-lembar-biru-di.html
true
21187299767068603
UTF-8
Tampilkan semua artikel Tidak ditemukan di semua artikel Lihat semua Selengkapnya Balas Batalkan balasan Delete Oleh Beranda HALAMAN ARTIKEL Lihat semua MUNGKIN KAMU SUKA LABEL ARSIP CARI SEMUA ARTIKEL Tidak ditemukan artikel yang anda cari Kembali ke Beranda Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec sekarang 1 menit lalu $$1$$ minutes ago 1 jam lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 pekan lalu Fans Follow INI ADALAH KNTEN PREMIUM STEP 1: Bagikan ke sosial media STEP 2: Klik link di sosial mediamu Copy semua code Blok semua code Semua kode telah dicopy di clipboard mu Jika kode/teks tidak bisa dicopy, gunakan tombol CTRL+C Daftar isi