Dipecat saat perang sedang berkecamuk? Respon Khalid bin Walid terhadap surat Khalifah Umar di Perang Yarmuk sungguh di luar nalar manusia biasa.
Nama Khalid bin Walid adalah jaminan kemenangan. Ia digelari Saifullah (Pedang Allah). Ratusan perang ia lalui tanpa sekalipun mencicipi kekalahan.
Namun, di tengah berkecamuknya Perang Yarmuk—pertempuran paling menentukan antara pasukan Muslim melawan Kekaisaran Romawi—terjadi sebuah peristiwa yang sangat ganjil.
Bukan tentang strategi perang, bukan tentang mukjizat langit. Melainkan tentang sebuah surat yang membuat sang panglima melakukan hal yang tak masuk akal bagi logika manusia biasa.
Surat Misterius di Garis Depan
Saat itu, Khalid sedang berada di puncak komando. Ia mengatur ribuan pasukan untuk menahan gempuran tentara Romawi yang jauh lebih besar dan bersenjata lengkap. Strategi jeniusnya sedang berjalan mulus.
Prajurit mengira itu adalah surat bantuan pasukan atau strategi tambahan. Namun saat Khalid membacanya, isi surat itu bagaikan petir di siang bolong.
Isinya singkat dan tegas: Khalid DIPECAT.
Khalifah Umar mencopot jabatan Khalid sebagai Panglima Tertinggi saat itu juga, dan menyerahkan kepemimpinan kepada Abu Ubaidah bin Jarrah.
Respon yang Mengguncang Logika
Bayangkan posisi Khalid. Dia sedang berjasa besar, dia pahlawan, dan dia sedang memimpin perang hidup-mati. Tiba-tiba dipecat tanpa alasan yang jelas di matanya.
Tapi perhatikan apa yang "ganjil" dari respon Khalid. Ia tidak marah. Ia tidak memprotes. Ia mendatangi Abu Ubaidah, mencium kening sahabatnya itu, dan menyerahkan panji perang dengan hormat.
"Silakan memimpin, wahai Kepercayaan Umat. Mulai detik ini, aku adalah prajuritmu,"kata Khalid.
Prajurit Biasa Berhati Baja
Khalid melepas atribut kebesarannya. Ia mundur ke barisan prajurit biasa.
Banyak prajurit yang bingung dan bertanya, "Wahai Khalid, kenapa engkau masih mau berjuang sekeras ini padahal engkau sudah diperlakukan seperti itu?"
Jawaban Khalid kemudian dicatat dengan tinta emas dalam sejarah:
"Aku tidak berperang karena Umar. Aku berperang karena Tuhannya Umar."
Di Balik Keputusan Umar
Ternyata, Umar memecat Khalid bukan karena benci. Umar khawatir umat Islam mulai syirik. Umar takut rakyat berpikir kemenangan datang karena kehebatan Khalid, bukan karena pertolongan Allah.
Kesimpulan
Peristiwa ganjil di Yarmuk mengajarkan kita definisi IKHLAS yang sesungguhnya. Ikhlas itu bukan cuma rela memberi, tapi rela tidak dianggap, rela turun panggung, dan tetap bekerja maksimal meski tidak lagi memegang jabatan. Khalid bin Walid membuktikan bahwa dirinya adalah pelayan Allah, bukan pelayan popularitas.
- Tarikh At-Thabari - Sejarah Para Rasul dan Raja.
- Kisah Para Sahabat - Dr. Mustafa Murad.
Komentar